Cegah Bullying pada Anak Autis, Sekolah dan Orang Tua Perlu Lakukan Ini



Apa reaksi Anda apabila melihat aksi bullying atau perundungan? Siapa pun yang memiliki hati nurani tentu tidak pernah menyetujuinya, bahkan menolak keras. Namun sayangnya, aksi tersebut masih saja terjadi.

Salah satunya, yang dialami belum lama ini terhadap mahasiswa penyandang disabilitas (autis) di sebuah universitas swasta di Depok, Jawa Barat. Dalam video singkat yang diunggah ke media sosial, terlihat ia sedang diganggu oleh tiga orang temannya yang juga merupakan mahasiswa di kampus tersebut.   

Tas punggung pemuda yang menjadi korban terlihat ditarik dari belakang sehingga ia tidak dapat melangkah. Sedangkan dua pemuda lain berdiri di depan korban. Setelah melakukan perlawanan, korban akhirnya berhasil melepaskan diri. Namun, untuk melampiaskan kekesalan, ia melemparkan tong sampah ke arah teman-temannya yang melakukan perundungan tadi.

Aksi perundungan tersebut mendapat kecaman dari berbagai pihak, termasuk Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa, yang menyayangkan kejadian tersebut.

Dikutip dari www.republika.co.id, Khofifah juga mengingatkan agar tidak pernah menganggap enteng perundungan karena dapat berakibat fatal. “Korban bully bisa mengalami stres bahkan karena tidak tahannya sampai akhirnya bunuh diri, jadi jangan anggap enteng bully,” kata Khofifah di Jakarta.

Meski aksi perundungan yang terjadi dalam video itu dilakukan oleh mahasiswa, bukan berarti anak-anak yang masih duduk di bangku SD lantas aman dari perbuatan tersebut.

Berdasarkan data dari tim Konselor Kementerian Sosial, ada sekitar 40 persen anak-anak, terutama usia SD dan SMP, yang di-bully akhirnya mengalami frustrasi yang cukup dalam.

Fathya Artha Utami, psikolog anak dari TigaGenerasi, mengungkapkan bahwa anak yang memiliki kebutuhan khusus memang rentan menjadi korban bullying.

“Anak berkebutuhan khusus, dalam konteks di sekolah apalagi sampai kuliah, memang rentan menjadi korban bullying. Karena dari fisiknya, kemampuannya, cara berjalan, cara bicara, biasanya ia memang berbeda dari anak-anak umumnya. Dan anak-anak lain di sekolah mudah menilai bahwa anak (berkebutuhan khusus) ini berbeda,” kata Fathya.

Untuk itu, menurut Fathya, diperlukan kerja sama dari pihak sekolah, orang tua, dan teman untuk mencegah perilaku bullying tersebut.

“Ketika pihak sekolah sudah siap dan mau menerima anak berkebutuhan khusus, berarti sekolah tersebut harusnya sudah bertanggung jawab terkait dengan sosialisasi mengenai siswanya yang memiliki kebutuhan khusus,” tambah Fathya. “Misalnya, sosialisasi tentang anak berkebutuhan khusus seperti apa yang diterima oleh institusi pendidikan tersebut. Kemudian media pembelajaran dan sistem pertemanannya. Khususnya anak autis, walaupun sudah cukup mandiri, tapi biasanya tetap membutuhkan buddy.”

Pada sistem perkuliahan di luar negeri, menurut Fathya, anak yang autis itu akan dikasih buddy. Jadi dipilih teman satu kelasnya yang akan terus mendampingi untuk membantu ia belajar, bersosialisasi, dan sebagainya. Kalau di Indonesia, saya pernah melihat hal ini di SD dan SMP.

"Tapi di perkuliahan, saya belum tahu,” katanya.

Sedangkan peran dari orang tua, menurut Fathya, perlu memerhatikan beberapa faktor sebelum memutuskan anak dengan kebutuhan khusus ini untuk menempuh pendidikan di sekolah umum.

Antara lain, apakah anak sudah cukup bisa mengikuti pelajaran dengan baik? Sudah cukup nyamankah? Serta memberikan pengarahan pada anak, kemungkinan yang dapat terjadi ketika ia di sekolah.  

Selain itu, orang tua juga perlu mengajarkan anak, apabila menghadapi aksi perundungan, harus berani berteriak, kemudian lari ke tempat yang ramai. Meskipun kadang-kadang anak yang merasa takut dan terpojok, takut berteriak dan minta tolong.  

Interaksi dan komunikasi yang sehat antara anak dan orang tua juga perlu dipupuk. Menurut Fathya, hal tersebut supaya sewaktu-waktu anak terkena bully atau terkena masalah apa pun, ia tidak takut bercerita dan terbuka kepada kedua orang tuanya untuk mencari dukungan. (Alika Rukhan


Baca juga:
Efektif Atasi Anak Suka Bully Teman
3 Kondisi Ini Termasuk Perilaku Bullying
Solusi Cegah Bully, Ajarkan Anak Terampil Bergaul


Topic

#StopBullying

 

Follow Us

Most Popular

Instagram Newsfeed

@parentingindonesia