Ciri Anak Melakukan Bullying pada Saudara


Tidak ada kakak-adik yang tidak pernah berselisih dan berkonflik. Bahkan, sejak mereka masih batita atau balita, ada saja yang membuat mereka berantem. Penyebabnya bisa bermacam-macam, mulai dari berebut mainan, hingga perhatian mama dan papanya. Tapi, tidak lama kemudian, mereka sudah akur lagi, bermain bersama lagi, tertawa-tawa gembira. Ketika Anda meminta mereka saling meminta maaf dan berpelukan, mereka melakukannya tanpa beban. Bahkan, jika salah satunya tidak ada, maka saudara yang lainnya akan gundah gulana. Misalnya, si kakak sudah sekolah, maka si adik yang sendirian di rumah akan merasa kesepian.

Hubungan kakak-adik memang kompleks, ya. Bisa dekat, hangat, tetapi diwarnai konflik dan rivalitas. Tetapi, mungkinkan konflik antara kakak-adik menjadi kelewatan, dan bahkan sudah tergolong bullying?

Pada dasarnya, sama dengan bullying yang terjadi antarteman, peer bullying di antara kakak-adik melibatkan 3 aspek penting, yakni: kekuatan yang tidak seimbang (imbalance power), terjadi terus-menerus, dan ada intensi untuk melukai/menyakiti/merugikan. Ini berbeda dari rivalry. Menurut psikolog Anna Surti Ariani (Nina) dari Klinik Psikologi Terapan Universitas Indonesia, wajar saja kakak beradik terlibat konflik.

Menurutnya, semua kakak-beradik itu pasti berantem, selalu ada ketidakselarasan pendapat atau perebutan mainan, atau semacamnya. “Tapi biasanya berantemnya itu mutual power, mereka sama-sama powerful. Dari mana mereka terlihat sama-sama powerful? Mereka saling menuduh, saling merebut, saling mengganggu, dll. Nah, hal semacam itu yang disebut sibling rivalry,” jelas Nina.

Tetapi, ada jenis konfl ik yang berbeda, yang kekuatannya tampak tidak seimbang (imbalance power), salah satu lebih kuat dibanding yang lain, dan ini terus terjadi. “Biasanya kakak lebih kuat dibanding adik, tapi tak selalu begitu. Bisa juga si adik lebih kuat dibanding kakaknya, bukan selalu dalam hal fisik, tapi bisa jadi kepintaran, kelihaian, keterampilan, keluwesannya, dll. Kekuatan-kekuatan itu yang kemudian menjadikan power-nya tidak seimbang. Lalu, yang ‘kuat’ terus-terusan merugikan atau ‘mencelakakan’ yang ‘lemah’.

Bahkan, kadang yang ‘kuat’ itu senang sekali mengganggu yang ‘lemah’, dan yang ‘lemah’ tidak sanggup membalas, lalu menjadi korban karena diancam si ‘kuat’ supaya tidak memberi tahu orang tuanya. Ini bisa terjadi ketika orang tua kurang perhatian, atau menganggap pertengkaran itu normal saja. Bisa juga karena orang tua terus membela yang ‘lemah’, sehingga yang ‘kuat’ merasa harus terus membela diri dengan menyakiti yang ‘lemah’,” papar Nina.

Baca juga : Atasi Persaingan Kakak Adik


 

 





Follow Us

angket

Most Popular

Instagram Newsfeed

@parentingindonesia