Ketika Anak Mulai Jatuh Cinta.



Beberapa orang tua mungkin mengindari topik percintaan karena menganggap anak-anak masih terlalu kecil atau isu ini belum pantas dibahas. Padahal, terang-terangan anak sudah menyatakan bahwa ia naksir salah satu temannya dan ingin berpacaran. Atau, tak jarang ia juga menceritakan tentang teman-temannya yang sudah lebih dulu berpacaran.
 
Anda mungkin merasa itu adalah suatu hal yang belum saatnya dan sebaiknya diabaikan. “Ah, itu cinta monyet. Namanya juga anak-anak,” pikir Anda. Akan tetapi, psikolog Ajeng Raviando justru menangkap momen ketika anak menceritakan bahwa ia jatuh cinta sebagai hal yang positif. Ia mengatakan bahwa, itu artinya anak-anak percaya kepada orang tuanya. “Ini hal yang sensitif, lho, buat anak-anak. Mereka khawatir kalau Mama-Papanya tahu, mereka akan dicela, diledek-ledek,” ujarnya.   
 
“Justru bagus, nih, buat Mama-Papa. Kita jadi bisa membekali anak kita dengan pemahaman,” ucapnya. “Sebagai orang tua, reaksinya harus calm down. Tanya dulu, sukanya kenapa. Misalnya dia pintar, baik,” imbuhnya.
 
Ajeng mengatakan bahwa ada beberapa berbagai bekal berharga yang bisa kita komunikasikan pada si kecil saat membahas masalah percintaan, antara lain adalah kriteria seseorang yang bisa menjadi pasangan yang baik kelak, yang mampu menghargai, apa alasan yang kuat untuk berpacaran, hingga pendidikan seksual. Jangan anggap bahwa anak-anak masih terlalu kecil untuk membahas ini.
 
Justru, Ajeng berpendapat bahwa dialog tersebut dapat mengasah kemampuan anak untuk berpikir kritis tentang pacaran. “Ini adalah kesempatan bagi Mama-Papa untuk memberi bekal kepada anak-anak kita tentang pacaran yang sehat,” ujarnya. Ia juga menambahkan, “Jadi, tip buat Mama-Papa kalau mau memberikan pemahaman yang membuat anak jadi lebih punya awareness tentang pacaran bisa dimulai sejak SD.”
 
Di samping itu, dialog seperti ini akan membuat anak-anak merasa bahwa orang tuanya benar-benar perhatian kepadanya. Sehingga, ia akan selalu datang kepada orang tua ketika ada masalah.
 
Bertepuk Sebelah Tangan
Anak-anak juga perlu dibekali dengan pemahaman bagaimana ia harus bersikap bila teman yang ia taksir tidak menyukainya. Orang tua perlu memberi penjelasan kepada anak bahwa cinta tidak bisa dipaksakan.  “Bisa lewat buku, film, nggak semua orang yang kita suka akan suka sama kita. Jadi, ajarkan bagaimana cara kita menjaga hubungan agar tetap baik,” jelasnya.
 
Nah, bagaimana bila yang terjadi adalah sebaliknya: si kecil ditaksir seorang teman yang tidak ia sukai. “Kita juga harus bisa mengajari anak kita cara menolak dengan sopan. Jangan sampai bikin sakit hati,” pesan Ajeng.
 
Tanyakan kepadanya apakah ia nyaman diperlakukan demikian bila berada di posisinya. “Katakan saja kepada anak, kalau dia menghindar terus, bisa jadi temannya lebih penasaran. Ajak ngobrol, bilang temenan aja, jangan maksa. Kalau anak merasa dipaksa, kasih tahu ke temannya bahwa dia nggak suka dipaksa,” ucapnya.
 
Sikap seperti ini juga sekaligus mengajarkan anak untuk mengatakan 'Tidak' dan membuat batasan yang tidak boleh dilewati orang lain.
 
Baca juga:
7 Tanda Anak Mulai Jatuh Cinta
Saat Anak Jatuh Cinta
Anak Jatuh Cinta, Perlukah Cemas?
Usia Anak Mulai Jatuh Cinta
 
LTF
FOTO: FREEPIK

 

 





Follow Us

angket

Most Popular

Instagram Newsfeed

@parentingindonesia