Kenali 3 Jenis Jahe

Rempah beraroma segar, tajam, dan rasanya pedas ’panas’ ini umum dikonsumsi sebagai bahan minuman, bumbu masak, dan obat tradisional. Sejak zaman Kong Hu Chu, jahe banyak ditanam di India untuk diekspor ke Tiongkok. Lalu, menyebar ke daerah tropis lainnya, termasuk Indonesia. Catatan lain menuliskan, jahe masuk ke wilayah Amerika dimulai dari Meksiko pada awal abad ke-16. Putra raja spanyol kala itu, Fransisco de Mendoza, membawa jahe dari Malabar (India) ke Jamaika dan Karibia pada tahun 1525.

Dalam bahasa ilmiah, jahe disebut Zingiber offi cinale Rosc. Kata zingeber berasal dari bahasa Yunani zingiberi yang artinya tanduk, karena bentuk rimpang jahe yang bercabang seolah diibaratkan tanduk rusa. Penggolongan jahe dibagi menjadi 3 jenis berdasarkan ukuran, bentuk, dan warna rimpang, yaitu:

1. JAHE KUNING BESAR. Sering disebut jahe gajah atau jahe badak. Varietas jahe ini mempunyai rimpang berukuran besar dan gemuk. Ruas rimpangnya lebih menggembung dibandingkan 2 varietas lainnya.
Cocok dikonsumsi: Sebagai bumbu masak, dalam keadaan segar atau bentuk olahan saat jahe berumur muda atau tua.

2. JAHE KUNING KECIL. Disebut juga jahe sentil atau jahe emprit. Ruasnya kecil, agak rata sampai agak menggembung. Dipanen setelah berumur tua. Kandungan minyak atsirinya lebih tinggi daripada jahe gajah, sehingga rasanya lebih pedas dan seratnya lebih tinggi.
Cocok dikonsumsi: Untuk bahan pembuat wedang, obat tradisional, atau diekstrak minyak atsirinya menjadi minyak jahe yang berguna untuk relaksasi.

3. JAHE MERAH. Jenis rimpangnya berwarna merah, ukurannya lebih kecil dibandingkan jahe sentil. Mengandung minyak atsiri paling tinggi dibandingkan jenis jahe lainnya. Sebaiknya, dipanen ketika usia jahe tua (8 - 9 bulan).
Cocok dikonsumsi: Untuk ramuan obat-obatan. Jenis jahe ini merupakan bahan penting dalam industri jamu tradisional. Biasanya, dipasarkan dalam bentuk segar dan kering.

 

 

Follow Us

Instagram Newsfeed

@parentingindonesia