2 Alasan Utama Seseorang Jadi Pelaku Mom Shaming


 

“Wah sekarang gendut banget, ya”
“Duh, kamu, kok, masih bisa rapi, cantik gini walau sudah punya anak. Kayaknya, sih, karena kamu kerja dan nggak urus anak sendiri. Kalau orang udah urus anak kayak aku ini, pasti nggak sempat dandan gitu.”
“Ohh, jadi anaknya suka pilih-pilih makanan, ya? Kayaknya karena nggak suka masakan ibunya, deh. Ibunya nggak jago masak kali.”
“Ya ampun, udah nambah anak lagi. Emang bisa ngurusnya? Anak satu aja nggak bener gini ngurusnya.”
“Kok, anak kamu berantakan banget, sih. Gimana, sih, ibunya ngurusnya?”
 

Sering mendengar kalimat-kalimat di atas? Maka, Anda pernah mengalami mom shaming! Atau, justru Anda sendirilah yang melontarkan kata-kata tersebut? Coba diingat-ingat! Bila iya, maka Anda pernah menjadi pelaku mom shaming­—dengan atau tanpa disadari.
 

Menurut Psikolog Anak & Keluarga, Anna Surti Ariani, S.Psi, M.Si., Psi., mom shaming bisa sangat variatif. Mom shaming bisa dilakukan oleh orang terdekat sendiri seperti suami, orang tua kandung, mertua, saudara kandung atau ipar, keluarga besar, bahkan sahabat. Mom shaming juga bisa dilakukan oleh orang yang tidak dikenal lewat virtual.

 
Menurut psikolog yang kerap disapa Nina ini, ada dua hal utama yang membuat seseorang bisa menjadi pelaku mom shaming, yakni:
 
1. Merasa Lebih Baik
Banyak orang yang merasa lebih baik dari ibu lain, menjadikan kelebihannya sebagai bahan mom shaming. Ia tak segan mengkritik orang lain yang tidak sesuai dengan standarnya. “Saya lebih baik. Kamu itu jelek banget,” ujar Nina memberi contoh. Tipikal pelaku seperti ini tidak memiliki empati terhadap kesulitan atau perjuangan ibu lain.
 
2. Minder
Berbeda dengan karakteristik pelaku sebelumnya, Nina juga menyebut bahwa salah satu penyebab orang melakukan mom shaming adalah merekalah yang sesungguhnya merasa minder atau tidak percaya diri. Sehingga, saat melihat ada orang yang bisa lebih baik darinya, ia akan memberikan tuduhan dan kritik tajam untuk menjatuhkan orang tersebut sebagai salah satu cara untuk membuat dirinya merasa lebih baik.
 
Apa pun alasan dan tujuannya, tentu tak ada manfaat baiknya untuk melakukan mom shaming pada perempuan lain, Ma. Justru yang kita butuhkan adalah saling mendukung dan memberikan empati. Mom supports mom, mom empower mom.
 
Baca juga:
Pentingnya Pertemanan Para Ibu
Cara Menyikapi Teman dengan Tegas
Terhasut Teman Belanja
6 Tip Hidup Rukun dengan Mertua
 
 
(LELA LATIFA)
FOTO: PIXABAY

 
 
 

 





Video

The Power Duo Business + Parenthood


Polling

2 Alasan Utama Seseorang Jadi Pelaku Mom Shaming

Follow Us

angket

Most Popular

Instagram Newsfeed

@parentingindonesia