Fakta Tentang Toksoplasma


Secara umum, setiap penyakit punya gejala khas sebagai ‘sinyal’ supaya kita bisa cepat mengatasinya. Namun, lain halnya toksoplasmosis, yaitu penyakit akibat kuman toxoplasma gondii yang tidak punya gejala khusus.

Tak tahunya, penyakit ini bisa hinggap di tubuh kita dalam waktu lama. Dan ternyata, ‘eksistensi’ toksoplasma bukan sekadar ditularkan oleh kucing atau diderita oleh wanita saja.

Menurut dr. T. Otamar Samsudin, SpOG, dari Klinik SamMarie, Jakarta, pada dasarnya penyakit ini disebabkan pola makan dan gaya hidup yang tidak terjaga. “Penyakit ini bisa menular, jika kita memakan daging yang dimasak setengah matang, contohnya satai dan steak baik sapi, kambing, babi, atau ayam.

Toksoplasmosis juga berhubungan dengan kebersihan,” ungkap dr. Otamar. Misalnya, kita merawat tanaman dan mengorek tanaman hingga ada kotoran menempel di kuku.

Jika kita tidak mencuci tangan sebelum makan, kuman di kuku tadi bakal tertelan. Selain itu, hewan peliharaan, seperti anjing, kucing, dan unggas, yang memang terinfeksi kuman toksoplasma bisa juga ‘mengancam’ kesehatan kita. Karena itu, kita perlu ekstra hati-hati membersihkan dan merawat mereka.

Dr. Otamar pun menambahkan, penyakit ini tidak menulari sesama manusia, kecuali kita melakukan transplantasi organ atau transfusi darah dari donor yang mengidap penyakit tersebut.

“Hubungan seksual, berciuman, atau segala macam kontak antar sesama manusia biasanya tidak menularkan toksoplamosis. Tapi kalau kita mencangkok organ dari penderita toksoplasmosis, maka kita bisa saja tertular penyakit itu. Secara kongenital, seorang ibu bisa menularkan toksoplasmosis ke bayinya, bila si ibu terinfeksi pada bulan-bulan pertama kehamilan. Karena itu, kita perlu memeriksakan kondisi,” kata dr. Otamar.

Yang jelas, dampaknya bakal fatal, kalau seorang ibu hamil tidak menyadari dirinya tertular toksoplasma dan penyakit ini menyerang janin.

Bila janin sudah terserang, maka ketika lahir, ada kemungkinan bayi mengalami kecacatan, seperti kepalanya membesar karena penuh cairan (hydrocephalus), tidak punya tulang kepala (anenchephalus), hingga fungsi otak, jantung, atau bagian lain dari janin tersebut terganggu.

“Penyakit ini tidak melihat umur dan jenis kelamin. Tetapi, kenapa pada lelaki tidak terekspos? Karena tidak ada gejala khusus. Pada wanita bisa ketahuan, karena mereka hamil dan suatu saat pasti memeriksakan janinnya,” jelas dr. Otamar.

Bagaimana cara mencegahnya?
- Jika diderita orang dewasa, umumnya hanya sebatas keluhan biasa, seperti meriang, tidak enak badan, dan lemas. Tetapi, mereka yang memiliki ketahanan tubuh bagus dan terjangkit toksoplasmosis, bisa tidak menunjukkan keluhan, sehingga sulit dideteksi.

Idealnya, periksa kondisi kesehatan sebelum memutuskan punya keturunan. Apalagi, toksoplasmosis biasanya sering dikaitkan dengan kasus infertilitas pada wanita, sehingga sulit hamil. Padahal, belum tentu pihak wanita yang bermasalah.

- Lakukan uji TORCH (Toxoplasma, Rubella, Cytomegalovirus, dan Herpes) yang bisa dilakukan di Bagaimana cara mencegahnya? klinik-klinik besar, rumah sakit, atau laboratorium. Pemeriksaan ini hanya memerlukan sampel darah
untuk mengetahui apakah terinfeksi atau tidak.

- Tingkatkan daya imunitas tubuh dengan mengonsumsi makanan sehat, seperti buah dan sayur, cukup istirahat, dan rutin olahraga.

- Hindari makan daging setengah matang.

- Pakailah sarung tangan, jika melakukan pekerjaan rawan kuman, seperti merawat tanaman.

- Berikan imunisasi dan bersihkan hewan peliharaan secara rutin.

Baca juga:
3 Penyakit Ini Disebabkan Virus

Foto: 123rf

 

Follow Us

Instagram Newsfeed

@parentingindonesia