Mengajarkan Bahasa Asing Sejak Dini Sebabkan Speech Delay, Benarkah?

mengajarkan anak bahasa asing


Dunia sudah semakin berkembang. Saat ini, kemampuan bilingual atau bahkan multilingual sangat dibutuhkan bagi seseorang yang hendak melebarkan sayapnya di dunia pendidikan atau di karirnya. Oleh karenanya, beberapa orang tua memutuskan untuk mengajarkan anak bahasa asing sejak usia dini.
 
Beruntunglah kita sebagai orang tua anak-anak generasi alfa dibekali dengan berbagai teknologi mumpuni. Dengan kelebihan itu, kita jadi semakin mudah memperkenalkan dan mengajarkan anak-anak kita berbagai bahasa asing, selain bahasa ibu. Akan tetapi, kok, ada yang bilang bahwa mengajarkan anak bahasa asing sejak dini dapat menyebabkan speech delay. Benar tidak, sih?
 
Kalau di zaman kita dulu, pelajaran bahasa asing atau bahasa Inggris baru didapat pada saat usia SD, psikolog anak dan keluarga Novita Tandry mengatakan bahwa anak-anak kita sekarang bisa diajarkan bahkan sejak sangat dini. Novita membantah mitos yang berkembang bahwa memaparkan dan mengajarkan anak lebih dari satu bahasa dapat menyebabkan speech delay.
 
Biang Keroknya
Menurut Novita, ada banyak faktor yang menyebabkan seorang anak mengalami speech delay, antara lain gangguan struktur di area mulut, gangguan pendengaran, gangguan perkembangan bicara, spektrum autisme, atau masalah neurologis seperi celebral palsy. Semua hal ini harus diperiksa sebelum mendiagnosis apakah seorang anak mengalami speech delay atau tidak.
 
Ia mengemukakan bahwa salah satu faktor lain yang sering menjadi pemicu speech delay adalah lantaran kurang stimulasi akibatnya terlalu banyak mengonsumsi gadget. “Anak sekarang itu, gadget sudah kayak oksigen,” ujarnya.
 
Baca juga: 2 Masalah Yang Timbul Akibat Kecanduan Gadget
 
Novita menjelaskan bahwa mengajarkan bahasa asing lewat gadget tanpa interaksi sama sekali dan tanpa stimulasilah yang memungkinkan kondisi speech delay. Sebab, menurutnya anak-anak tetap butuh interaksi langsung dengan pengasuh utamanya dan aktif diberikan stimulasi tentang bagaimana bahasa digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
 
Boleh Saja Mengajarkan Bahasa Asing Sejak Dini, Asal…
Novita meyakini bahwa tidak ada masalah mengajarkan anak untuk menjadi bilingual atau multilingual, asal hal tersebut dilakukan secara konsisten agar tidak menimbulkan kebingungan pada diri anak. Novita menyarankan agar orang tua memiliki kesepakatan atau SOP dengan support system di rumah tentang penggunaan bahasa, baik bahasa ibu maupun bahasa asing
 
Anda bisa menggunakan berbagai skenario di dalam SOP, misalnya, Mama aktif berkomunikasi dengan anak menggunakan bahasa Indonesia, Papa aktif berkomunikasi dengan anak menggunakan bahasa Inggris, dan Kakek-Nenek bisa berkomunikasi dengan anak menggunakan bahasa daerah masing-masing. Praktikkan ini secara konsisten.
 
Novita menegaskan agar masing-masing anggota keluarga sebisa mungkin tidak mencampurkan bahasa saat bicara. “Butuh konsistensi untuk mengingatkan kita terus menerus. Misalnya saya ibu yang berbahasa Inggris, oh yaudah saya pakai bahasa Inggris terus,” uajrnya.
 
Usia Berapa Anak Bisa Diajarkan Bahasa Asing?
Novita mengatakan bahwa waktu emas untuk mengajarkan anak bahasa asing justru sejak anak sangat dini, bahkan semenjak usia 0 tahun. “Kemampuan berbahasa itu paling pesat di usia 0-3 tahun,” ujarnya.
 
Semakin dini anak-anak diajarkan bahasa asing justru semakin cepat mereka mampu menguasai. “Anak-anak (itu) masa penyerapannya  di usia 0-3 thn itu luar biasa. Jadi kalau kita bicara sinapsis, neuroscience, otak manusia itu di usia 0-2 tahun ada ratusan trilyun sinapsis,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa sinapsis-sinapsis itu bisa tersambung bila ada stimulasi, salah satunya stimulasi bahasa.
 
Baca juga: Perkembangan Otak pada Anak
 
Kebiasaan pengasuhan orang tua memegang peranan 60-70% terhadap kecerdasan anak, termasuk kecerdasan bahasa. Oleh karenanya, membiasakan anak secara aktif berbahasa selain bahasa ibu akan mendorong perkembangan otaknya. “(Anak-anak bilingual atau multilingual) punya kecerdasan majemuk yang lebih baik dari anak seusianya,” ujar Novita.
 
Bagi orang tua yang anaknya sudah di atas tiga tahun, tak perlu berkecil hati, sebab sampai usia enam tahun, anak masih memiliki kemampuan menyerap yang sangat baik. “Manfaatkan baik-baik waktu ini,” pesan Novita.
 
Kelebihan Anak yang Menguasai Bahasa Asing
Novita menyebut bahwa anak-anak yang memiliki keterampilan multilingual justru memiliki kecenderungan lebih cerdas secara kognitif/akademik dibandingkan anak-anak yang hanya menguasai satu bahasa. Ia memberi contoh anak berusia 4 tahun yang umumnya sudah bisa menguasai 1000-1500 kata. Pada anak-anak bilingual, maka jumlah kosa kata itu bisa dua kali lipat.
 
Ia juga menambahkan bahwa anak-anak bilingual atau multilingual memiliki self esteem dan kepercayaan diri yang lebih baik. “Dan otomatis, komunikasi mereka secara psikososial lebih baik. Karena, mereka bangga, mereka mampu mengomunikasikan pikiran dan isi hatinya secara verbal. Mereka lebih memiliki kecerdasaran interpersonal dan intrapersonal,” imbuhnya.
 
Baca juga:
Anak dengan Kecerdasan Verbal Linguistik, Apa Ciri dan Kelebihannya?
7 Alasan Mengapa Anda Perlu Mengajarkan Anak Dua Bahasa
Ini Manfaat Tidur Siang untuk Kecerdasan Anak
 
LTF
FOTO: FREEPIK

 


Topic

#balita #pengasuhananak #parenting

 





Video

Lindungi Anak dari Kejahatan Pedofilia


Polling

Mengajarkan Bahasa Asing Sejak Dini Sebabkan Speech Delay, Benarkah?

Follow Us

angket

Most Popular

Instagram Newsfeed

@parentingindonesia