7 Pantangan Mompreneur dalam Membangun Usahanya



Saat ini, semakin banyak Mama yang bercita-cita menjadi mompreneur. Mompreneur dianggap sebagai pekerjaan produktif yang ideal untuk perempuan yang sudah menjadi ibu karena fleksibilitas waktu yang ditawarkan. Mama bisa mengaktualisasikan diri dan mewujudkan cita-cita sambil tetap fokus membesarkan anak. Di samping itu, seorang mompreneur ibu jadi lebih punya kontrol untuk mengatur jadwalnya sendiri karena tak terikat dengan atasan.
 
Ada banyak pilihan usaha yang bisa dipilih oleh mompreneur. Akan tetapi, memulai usaha tidak semudah menjentikkan jari, lho, Ma. Untuk menjadi mompreneur, Mama tetap butuh komitmen yang kuat. Apa saja kesalahan umum yang sering dilakukan mompreneur dalam membangun usahanya?
 
 

1. Memulai Usaha Karena Tekanan Sosial
Bisnis tidak bisa dimulai dengan niat awal yang tak tepat. Tak sedikit yang ingin berbisnis hanya karena malu dengan perannya saat ini. Masyarakat kita memang punya standar ganda atas peran ibu, bahwa ibu harus serba bisa. Hal ini dapat menjadi tekanan bagi para Mama.
 
Tak jarang, kita mendengar celetukan seperti, “Duh, sekolah tinggi-tinggi malah ujung-ujungnya hanya jadi ibu saja. Buat apa ijazahnya?” pada full time mom atau sindiran, “Kerja terus di luar, anaknya jadi anak baby sitter, tuh,” untuk working mom. Duh, serba repot, kan.
 
Baca juga: Working Mom dan Milenial Rentan Menjadi Orang Tua Perfeksionis
 
Nah, beberapa mungkin merasa terintimadasi dengan tekanan sosial tersebut sehingga terpancing untuk menjalankan usaha yang bisa dijalankan dari rumah saja agar tetap bisa mengurus anak dan bekerja. Akan tetapi, jika niat Anda membuka usaha hanya karena rasa malu, gengsi, atau tertekan akibat omongan orang, sebaiknya tunda dulu hingga Anda benar-benar yakin dan punya perencanaan usaha yang berjangka panjang. Jangan sampai, usaha Anda hanya seumur jagung karena dikerjakan dengan emosional.
 

2. Tidak Menyusun Business Plan
Walaupun menurut Mama ini hanya sebuah usaha kecil, tetap saja membutuhkan business plan yang jelas. Selain arah pengembangan usaha, bussiness plan harus memuat perencanaan keuangan. Perencanaan yang jelas ini akan membuat Anda mampu memprediksi upaya yang harus dilakukan untuk bisa balik modal dan bahkan mendapat laba.
 
Di samping itu, business plan juga menjadi acuan flow keuangan seperti apakah Anda akan melakukan pinjaman untuk memodali bisnis atau harus mencari sumber dana lain. Anda juga bisa memahami skema yang akan Anda gunakan untuk berbisnis denga kondisi keuangan Anda, misalnya menggunakan sistem preorder untuk bisnis yang bermodal kecil.
 

3. Tidak Punya Batasan yang Jelas Antara Urusan Rumah dan Pekerjaan
Cena Block, konsultan produktivitas penulis Time to Toss It! Get Uncluttered & Organized membagikan ceritanya mendampingi mompreneur bahwa salah satu kesalahan besar para ibu yang ingin membangun usaha adalah tidak benar-benar mendirikan bisnis mereka sebagai bisnis. “Mereka memulai dengan batasan yang tidak jelas antara menjadi seorang ibu dan pemilik bisnis,” cetusnya.
 
Banyak mompreneur yang akhirnya tidak bisa optimal karena tidak memiliki waktu kerja. Mereka bekerja di sekitar anak-anak tanpa aturan yang jelas sehingga sangat mudah terdistraksi. Walaupun bekerja tanpa atasan dan waktu yang lebih fleksibel, bukan berarti mompreneur tidak punya jadwal kerja. Justru, Mama harus meluangkan waktu khusus untuk benar-benar diisi dengan bekerja. Berkomitmenlah ambil waktu sekian jam untuk bekerja secara khusus di ruangan terpisah. Setelah selesai bekerja, Anda bisa kembali bermain dan mengasuh anak-anak.
 

4. Lompat Sana-Sini
Usaha tidak bisa dibangun dalam waktu sekejap seperti kisah candi Roro Jonggrang. Oleh karenanya, tentukan spesifikasi bisnis Anda dan setialah padanya hingga membuahkan hasil. Menurut Cena, banyak mompreneur yang mencoba untuk menangani banyak bidang agar segera untung. Akan tetapi, mereka malah jadi terlihat seperti tidak punya spesifikasi.
 

5. Takut Pasang Harga
Sebagian besar ibu mengenakan biaya rendah ketika mereka pertama kali memulai,” ujar Cena. Padahal, menurutnya, sangat penting untuk benar-benar menentukan angka yang ingin dicetak setiap tahun. Rumus sederhananya adalah dengan menentukan laba dan menambahkan perkiraan jumlah pengeluaran bulanan untuk menjalankan bisnis lalu bagikan ke dalam waktu yang sudah Anda tentukan. 

6. Tidak Punya Support System
Bagi mompreneur, support system mereka bukan hanya suami, asisten rumah tangga, atau keluarga saja. Padahal tidak bisa begini. Keluarga dan pekerjaan butuh batasan. Walaupun suami bisa membantu bisnis Anda, akan tetapi jangan berharap bahwa ia akan meluangkan seluruh waktunya. Sebab, ia juga punya kesibukan. Tak jarang, hal-hal seperti itu malah membuat hubungan jadi tegang karena tak jarang konflik dalam pekerjaan juga memengaruhi hubungan.
 
Stacey Martino, konsultan pernikahan pendiri Relationship Development memperkenalkan konsep tangan kiri-kanan untuk membantu para kliennya meningkatkan hubungan dan memenuhi kebutuhan personalnya.
 
Ia menjelaskan bahwa di tangan kiri, Anda memegang orang-orang yang membantu pertumbuhan Anda, memberi bimbingan dan dukungan dukungan, memberi jaringan, atau bahkan jalan menuju pencapaian bisnis. Di tangan kanan, Anda memegang orang-orang terdekat: suami, anak, keluarga, teman.
 
Stacey mengatakan bahwa tangan kanan Anda hanya untuk MEMBERI! Siapa yang Anda pegang di tangan kanan harus diberi cinta dan kasih sayang tanpa syarat. Sementara, tangan kiri adalah untuk MENDAPATKAN. Dapatkan kesempatan dan semua peluang yang ada. Dengan demikian, Anda bisa beralih ke tangan kanan untuk MEMBERI pada keluarga Anda.
 

7. Merasa Harus Selalu Menyenangkan Orang Lain
Cena mengatakan bahwa ini adalah perasaan yang sering menjebak para mompreneur. Mereka sering merasa sungkan, entah itu sungkan mematok harga, sungkan membuat standar, sungkan bersikap tegas pada orang. Padahal, kita tak harus selalu membuat semua orang senang.
 
Bagaimana, Ma. Sudah siap memulai bisnis sendiri? Anda bisa juga mempelajari strategi yang harus dijalankan di artikel 6 Tip Mewujudkan Cita-cita Anda Menjadi Mompreneur
 
 
Baca juga:
Ciptakan Personal Branding untuk Tingkatkan Bisnis
7 Langkah Pemula Mengoptimalkan Media Sosial untuk Usaha
9 Calon Pekerjaan Menarik untuk Anda yang Ingin Mengaktualisasi Diri
Solusi Masalah Keuangan di Masa Pandemi: Hindari Utang, Mulai Berdagang
 
 
LTF
FOTO: FREEPIK

 


Topic

#duniamama #mompreneur #ibubekerja

 





Video

Lindungi Anak dari Kejahatan Pedofilia


Polling

7 Pantangan Mompreneur dalam Membangun Usahanya