Dinamika Vaksin COVID-19, Sinovac Akan Jadi Booster

vaksin sinovac untuk booster

 

Libur Lebaran sudah tinggal beberapa hari lagi. Sebagian masyarakat Indonesia bahkan sudah mulai melakukan perjalanan mudik. Setelah 2 tahun ada imbauan tegas dari pemerintah Indonesia untuk tidak mudik, awal Ramadan kemarin Presiden Joko Widodo mengumumkan pelonggaran aktivitas beribadah di masjid selama bulan puasa dan memperbolehkan masyarakat melakukan perjalanan mudik dengan syarat sudah mendapatkan vaksinasi.
 
Baca juga: Berniat Mudik, Siapa Saja yang Bebas Swab PCR/Antigen?
 
Kondisi Terkendali, Angka Kasus Turun Jauh
Dalam media briefing, pada Senin, 25 April 2022 kemarin, dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid, Juru Bicara Vaksin COVID-19 Kementerian Kesehatan RI, menyampaikan update terkini seputar dinamika vaksin COVID-19, dalam kaitannya dengan perlindungan masyarakat menjelang libur Lebaran dan aktivitas mudik.
 
Dikatakan bahwa kondisi saat ini sebenarnya sudah cukup terkendali. “Pelonggaran-pelonggaran aktivitas sudah kita lakukan, bahkan sejak awal Ramadan, pemerintah sudah memutuskan kita bisa mudik kembali setelah 2 tahun tidak mudik dan berkumpul dengan keluarga besar. Mungkin ini akan menjadi perayaan Idulfitri yang berbeda karena kita sudah bisa berkumpul dengan keluarga besar,” kata Nadia.
 
Saat ini, hampir semua provinsi di Indonesia berada pada PPKM level 1, tidak terjadi peningkatan kasus secara signifikan, dengan angka konfirmasi harian cenderung turun terus. Diungkap Nadia, per tanggal 25 April 2022, dilaporkan terdapat 317 kasus, turun jauh dibandingkan saat kita mengalami puncak varian Omicron, yakni sekitar 61.000 kasus, apalagi saat kita mengalami varian Delta, dengan angka kematian cukup tinggi.  “Angka kematian dilaporkan sebanyak 33 kasus. Pada saat Omicron sebanyak 2200 kasus. Varian Delta jauh lebih besar. Angka positif kita saat ini kurang dari 1 persen. Per 23 April 2022, keterisian rumah sakit adalah 3% dari total kapasitas yang ada,” kata Nadia.
 
Hal lain yang penting untuk menjadi perhatian kita adalah angka reproduksi virus cenderung turun, mendekati angka kurang dari 1, sebagai ukuran bahwa pandemi terkendali. Kondisi ini, dikatakan Nadia, sama dengan kondisi pada bulan September 2021, ketika pandemi sudah bisa dikendalikan dan kasusnya sangat rendah. “Angka positif bisa kita turunkan dalam kurun waktu 3,5  bulan pada angka di bawah 1% dan jumlah kasus hariannya juga lebih rendah dibandingkan dengan kondisi pada Januari 2022. Di bulan September-Desember 2021, angka kasus positif kita kurang lebih hampir masih sama dengan awal-awal pandemi, yang angkanya masih sangat rendah,” kata Nadia.

Baca juga: Tingkatkan Daya Tahan Tubuh Selama Isolasi Mandiri (Isoman)
 
Berkat Cakupan Vaksinasi Makin Luas
Tentu kita patut bersyukur karena pengendalian COVID-19 di Indonesia terbilang lebih baik dibanding negara-negara lain, termasuk ASEAN. Nadia membandingkan Indonesia dengan Malaysia yang masih berjibaku dengan 4000 kasus per hari pada 24 April lalu, Singapura sebanyak 2000 kasus, dan Thailand hampir 15.000 kasus, sementara Australia 700 kasus.
 
“Kontribusi vaksin sangat berperan dalam pengendalian COVID-19. Saat kita mengalami varian Delta dengan cakupan vaksinasi pada waktu itu hanya 30 persen pada dosis pertama, sangat berbeda dengan situasi yang saat ini terjadi dengan varian Omicron, yakni hampir 70% masyarakat sudah mendapatkan vaksinasi dosis pertama. Tentunya kami mengucapkan terima kasih atas dukungan, kolaborasi dan partisipasi serta minat masyarakat yang sangat tinggi dalam mengikuti program vaksinansi,” kata Nadia.
 
Jika vaksin dosis pertama sudah mencapai 95,53% dari target, pada akhir minggu ini dosis kedua ditargetkan mencapai 80%, dan diharapkan vaksin dosis ketiga juga semakin meningkat. Saat ini, diungkap Nadia, kurang lebih 17% dari 208 juta target vaksin juga sudah mendapatkan perlindungan vaksinasi dosis ketiga. “Kita berharap dosis ketiga ini memberikan tambahan ketahanan antibodi bagi masyarakat kita, dalam merayakan ibadah dan mudik Lebaran tahun ini,” kata Nadia.
 
Baca juga: 22 Tanya-Jawab Seputar Vaksin Booster COVID-19
 
6 Regimen Vaksin, Sinovac Akan Jadi Booster
Walaupun kondisi kita sudah terkendali dengan cakupan vaksin makin luas dan pemerintah terus menggenjot program vaksinasi nasional hingga pemberian booster gratis, kita sebaiknya tidak lengah. Jangan lupa, tiap kali ada libur panjang atau pasca perayaan agama terjadi peningkatan kasus. Gelombang pertama varian Alfa terjadi pasca liburan Natal  dan tahun baru 2020, kemudian gelombang kedua dengan varian Delta juga terjadi pasca liburan panjang dan Idulfitri 2021, sementara varian Omicron yang baru saja kita hadapi terjadi pasca liburan Natal dan tahun baru 2022. Libur Lebaran kali ini, akan menjadi ujian kita bersama, dan perlu upaya untuk sama-sama waspada agar bisa merayakan Idulfitri dengan aman.
 
“Kami cukup optimistis, mengingat cakupan vaksinasi cukup tinggi. Pencapaian ini tentunya tidak lepas dari sejumlah regimen vaksin yang kita gunakan selama ini dalam program vaksinasi nasional. Percepatan-percepatan dan upaya kita dengan menggunakan regimen vaksin juga merupakan upaya untuk mengurangi angka perawatan RS maupun kematian,” papar Nadia.
 
Lebih lanjut dikatakan bahwa 6 regimen vaksin yang telah mendapatkan izin BPOM terdiri dari Sinovac, Astrazeneca, Pfizer, Moderna, Johnson & Johnson, dan Sinopharm. Regimen vaksin tersebut diperoleh dengan berbagai macam skema, yakni pembelian langsung, kerja sama bilateral, maupun hibah, dalam upaya menyegerakan jumlah stok vaksin bagi seluruh masyarakat Indonesia, sesuai degan peruntukannya, sehingga dapat menekan serendah mungkin angka penularan serta kematian dalam waktu secepat mungkin.
 
Pada saat kondisi darurat, dijelaskan Nadia, MUI telah memberikan rekomendasi penggunaan beberapa jenis vaksin, termasuk juga fatwa halal untuk vaksin Sinovac dan Sinopharm. “Vaksin-vaksin yang sudah beredar luas di Indonesia banyak digunakan di beberapa negara muslim lainnya, seperti Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Pakistan, Malaysia, Bangladesh, Iran, Mesir, Palestina, Kuwait, Maroko. Terbukti, di negara-negara muslim tersebut, kasus COVID-19 terkendali hingga saat ini,” jelas Nadia.
 
Berkaitan dengan hal tersebut, Nadia menyampaikan bahwa pemerintah menghormati putusan Mahkamah Agung No. 31 p/hum/2022
, atas rekomendasi melakukan penyediaan vaksin halal dalam program vaksinasi nasional. “Untuk itu, masyarakat yang merasa nyaman menggunakan Sinovac, kami membuka peluang vaksin tersebut bisa digunakan sebagai vaksin booster,” ungkap Nadia.
 
Namun, Nadia mengingatkan bahwa dalam kondisi darurat dan keterbatasan jumlah vaksin, vaksin terbaik adalah yang tersedia. Jadi, jangan terlalu pilih-pilih. Tentu, upaya vaksinasi yang kita jalani tidak hanya akan menyelamatkan jiwa kita, namun juga keluarga dan handai taulan. “Kejadian gelombang varian Delta akan menjadi pelajaran kita, dan kita berharap supaya itu tidak terulang untuk kedua kalinya,” pungkas Nadia.
 
Baca juga:
Dukungan terhadap Percepatan Vaksinasi Anak Usia 6-11 Tahun
Efek Samping Vaksin COVID-19 pada Anak, Apa yang Harus Dilakukan?
Imbauan dan Rekomendasi PAPDI tentang Pemberian Vaksinasi Booster COVID-19
13 Rekomendasi Terbaru IDAI Soal Vaksin COVID-19 pada Anak 6-11 Tahun
Waspada MIS-C, Komplikasi Langka COVID-19 pada Anak-Anak
Benarkah Anak-Anak Sekarang Lebih Kebal COVID-19?
 
grc
Foto: Shutterstock


Topic

#RamadanParentingIND #PranaRamadan #RamadanBulanMulia #keluarga #vaksincovid19 #vaksinbooster

 





Video

Lindungi Anak dari Kejahatan Pedofilia


Polling

Dinamika Vaksin COVID-19, Sinovac Akan Jadi Booster