Asal Usul Kulit Bayi

Di dalam kandungan, "perisai” tubuh bayi yaitu kulit masih sangat tipis dan sensitif, tapi tetap canggih. Berikut yang perlu kita ketahui untuk melindungi kulit bayi.

Dari berbagai jenis organ tubuh bayi, kulit adalah organ yang berukuran paling luas, bisa mencapai 2 m² dengan ketebalan 1 hingga 2 mm. Namun, kulit bayi saat berada di dalam kandungan, berbeda dengan kulitnya sekarang. Di dalam rahim, kulit janin selalu terjaga kelembabannya secara alami karena ia hidup di dalam kantung amnion (ketuban) berisi cairan amnion. Selain itu, kulit bayi juga selalu terlindungi oleh lapisan tipis dari lemak berwarna putih kekuningan (vernix caseosa).

Berawal dari 3 lapisan. Bagaimana kulit bayi terbentuk? Cikal bakal kulit sudah terbentuk sejak bayi masih berada di dalam rahim, berbentuk embrio. Sel-sel pada embrio dapat dibedakan menjadi 3 kelompok lapisan sel, yaitu ektoderm, mesoderm, dan endoderm. Karena zat warna (pigmen) kulit belum terbentuk, pada bulan ke-3, kulit janin masih berupa jaringan transparan. Di bulan ke-4 kehamilan, rambut “pertama” janin –yaitu lanugo– mulai tumbuh, dan di bulan berikutnya, kelenjar minyak serta kelenjar keringat sudah terbentuk dan mulai berfungsi.

Lanugo secara bertahap “menghilang” karena luruh pada bulan ke-7 kehamilan. Selanjutnya pada bulan ke-8, kulit janin mulai dilapisi lemak (vernix caseosa) yang berfungsi sebagai pelindung untuk mencegah pengikisan kulit oleh cairan amnion dan pelindung kulit dari infeksi. Sekitar 1 bulan setelah bayi lahir, lanugo yang masih bertahan akan luruh juga dan digantikan oleh rambut halus yang disebut velus.

Masih rentan dan sensitif. Saat bayi lahir, meski seluruh jaringan kulitnya telah terbentuk, tapi belum seluruhnya berkembang sempurna. Itu sebabnya, kulit bayi belum mampu berfungsi optimal. Begitu lahir, kulit bayi mengalami perubahan drastis dari kondisi lingkungan yang sangat berbeda dibandingkan ketika berada di dalam rahim ibu yang hangat, nyaman, dan aman. Di luar rahim, tidak ada lagi cairan amnion yang menjaga kelembaban kulitnya.

Tak heran bila sekitar 60% bayi mengalami kulit kering! Ini antara lain karena struktur kulit bayi Anda belum sempurna perkembangannya. Kulit bayi 30% lebih tipis dari kulit orang dewasa sehingga cairan lebih mudah menguap. Juga, karena sel-sel kulitnya masih kecil-kecil dan belum berkembang sehingga ikatan di antara sel-sel kulit tersebut masih longgar. Lapisan tanduk pada permukaan kulit juga masih sangat tipis, sehingga kulit bayi cenderung rentan, mudah robek, serta belum mampu berfungsi sebagai pelindung tubuh yang optimal terhadap serangan berbagai kuman penyakit.

Ikatan di antara sel-sel kulit yang masih longgar ini, juga menyebabkan kulit bayi tidak mampu menahan molekul-molekul air di antara sel-selnya dengan baik, sehingga mudah menguap. Inilah yang menyebabkan kulit bayi lebih mudah mengalami dehidrasi dan kekeringan dibandingkan kulit orang dewasa. Untuk menjaga agar kulit bayi Anda terjaga kelembapannya, lakukan perawatan dengan kosmetik bayi yang tepat. Tak ada salahnya berkonsultasi lebih dulu dengan dokter kulit anak untuk memilihkan kosmetik yang tepat dan teruji secara klinis bagi bayi Anda. (DEN)

Foto: Pixabay

Baca juga:
Kondisi Kulit Bayi Baru Lahir
Jika Kulit Bayi Terkena Eksim Susu
Kulit Bayi Sensitif? Ini Cara Menanganinya!

 

Follow Us

Most Popular

Instagram Newsfeed

@parentingindonesia