10 Perbedaan Pandangan Suami-Istri yang Rentan Menimbulkan Konflik Rumah Tangga

mengatasi perbedaan pandangan suami istri


Sebetulnya, perbedaan dalam rumah tangga tak selalu buruk. Iya, kan? Malah, beberapa perbedaan dengan pasangan yang justru membuat kita melabuhkan hati kepadanya. Misalnya, orang yang kurang mampu mengelola finansial akan memilih menikah dengan pujaan hatinya yang memang jago dalam hal tersebut. Atau, orang yang kurang rapi akan memilih orang rapi untuk memandunya hidup lebih baik.
 
Sebanyak apa pun kesamaan kita dengan pasangan, baik sifat, latar belakang keilmuan, atau pengalaman, pasti ada perbedaan yang justru menjadi alasan kenyamanan kita dengannya. Perbedaan tersebut tak selamanya jadi tantangan. Sebab, mereka juga dapat menghasilkan hal positif yang berdampak signifikan dalam rumah tangga.
 
Akan tetapi, ada juga perbedaan pandangan suami-istri di dalam pernikahan yang justru rentan menimbulkan konflik dalam rumah tangga. Randi Gunther, Ph.D., psikolog klinis serta konselor pernikahan di Southern California, AS, menceritakan perbedaan pandangan apa saja yang membuat suami-istri sering berkonflik sepanjang pengalamannya menangani klien.
 

1. Pandangan tentang Definisi Menyayangi
Nah, ada seseorang yang merasa tidak disayangi oleh pasangannya hanya karena mereka memiliki perbedaan pandangan dalam definisi menyayangi. Misal, sang suami merasa bahwa menyayangi cukup dengan memberikan senyuman atau melempar humor sesekali, sementara sang istri berpandangan bahwa menyayangi harus dengan sentuhan fisik dan pujian.
 
Contoh lainnya, suami merasa tidak dicintai istrinya karena sang istri jarang menemaninya melakukan hobi atau sekadar makan malam berdua. Sementara, bagi istri, wujud kasih sayang adalah saling memeluk, bukan harus selalu berdua. Istri juga jadi merasa tidak disayangi karena sang suami jarang memeluknya tanpa diminta.
 
Setiap orang memiliki bahasa cinta yang berbeda. Bahasa cinta adalah cara yang paling sering digunakan seseorang untuk menyayangi maupun cara yang dia harapkan dari orang lain untuk mencintainya. Ada lima bahasa cinta yang berbeda-beda yang harus Anda ketahui. Nah, oleh karenanya, penting untuk memahami bahasa cinta pasangan Anda dan memberinya bentuk kasih sayang yang sesuai.
 

2. Pandangan tentang Kebutuhan Sosial
Ada orang yang butuh lingkaran pertemanan yang besar, sering berkumpul dengan temannya, namun pasangannya hanya ingin sedikit orang saja di inner circle-nya. Ini sering berubah menjadi gangguan ketika salah satu tidak menyukai jika pasangannya harus keluar dengan teman dan meninggalkan keluarga atau membawa teman ke rumah dan mengganggu waktu berkualitas bersama keluarga.
 
Tak hanya itu, ada juga orang yang merasa butuh berada di dalam keluarga besar, sementara pasangannya lebih nyaman hidup mandiri dengan keluarga kecil. Ini juga rentan menjadi konflik ketika salah satu pihak tidak terpenuhi kebutuhan sosialnya dan merasa terkucil atau salah satu merasa risih karena terlalu banyak keluarga yang ikut campur.
 
Baca juga: 6 Tip Hidup Rukun dengan Mertua
 

3. Pandangan tentang Menghadapi Masalah
"Saya jarang melihat pasangan dalam suatu hubungan bereaksi dengan cara yang sama terhadap tantangan besar,” cerita Gunther. Ada pasangan yang sangat reaktif, sementara pasangannya lebih suka menunggu untuk melihat apakah masalahnya selesai dengan sendirinya seiring waktu. 

Baca juga: 4 Sumber Masalah Pasangan yang Terlalu Kritis
 
Hal ini bisa menjadi konflik karena satu pihak merasa bahwa pasangannya tidak peduli atau tidak ingin menyelesaikan masalah, sementara satu pihak merasa pasangannya terlalu emosional.
 

4. Pandangan tentang Komunikasi
Komunikasi yang dimaksud oleh Gunther di sini meliputi berbagi cerita, ditanyai, atau memberikan informasi. Ada yang suka melapor posisinya, apa yang sedang dikerjakannya, sementara pasangannya tidak suka menyukai pertanyaan-pertanyaan tentang hal tersebut. Ada yang suka ditanyai tentang harinya atau ingin pasangannya bisa berbagi, sementara pasangannya tidak terlalu menganggap besar hal tersebut. Ketahui 6 Perbedaan Mama dan Papa dalam Berkomunikasi.
 

5. Pandangan dalam Membuat Keputusan
Membeli mebel, mendaftarkan anak sekolah, memilih asuransi. Perbedaan ini sering terjadi dalam hal-hal tersebut. Ini adalah ketidakcocokan yang sering diabaikan, meskipun sering ada,” kata Ghunter.
 
Ada orang yang ingin segera membuat keputusan dan mendiskusikan kembali dengan pasangan, serta mengeksekusi. Sementara, pasangannya mungkin perlu menghabiskan waktu berjam-jam membuat perbandingan dengan browsing di internet atau menanyakan pendapat orang lain. Hal ini membuat satu pihak merasa pasangannya lamban, sementara yang satu lagi merasa pasangannya terlalu terburu-buru.
 

6. Pandangan tentang Pekerjaan
Dalam sebuah rumah tangga, ada banyak tugas, mulai dari mengurus rumah, keuangan, mengasuh anak, sampai bekerja. Sering kali, ketidakadilan dalam semua pekerjaan tersebut, membuat hubungan jadi rentan konflik di mana satu pihak merasa harus terima diposisikan tidak adil dalam rumah tangga.
 
Baca juga: Untuk Papa: 7 Tip Menjadi Suami yang Lebih Baik
 
 

7. Pandangan tentang Gaya Hidup
"Ini adalah salah satu area di mana beberapa pasangan sangat cocok dan yang lainnya tidak sama sekali,” kata Gunther. Oh, jadi bukan perbedaan yang umum di mayoritas pasangan, ya.
 
Misalnya saja, satu pihak sangat percaya bahwa sangat penting untuk berkomitmen pada gaya hidup hemat, sementara yang lain lebih suka menjalani hidup dengan cara hedonistik. Masalah muncul ketika keluarga jadi banyak berutang karena penggunaan kartu kredit dan satu pihak yang tidak menyetujui jadi harus ikut bertanggung jawab.
 

8. Pandangan tentang Self Care
Ada yang merasa butuh self care dengan pergi berlibur, menonton TV, bertualang, ke salon, namun ada yang butuh hanya dengan istirahat karena menganggap semua bentuk self care lain hanya membuang uang. Itu yang biasanya jadi sumber konflik.
 
Bagaimana pun, Mama dan Papa Juga Butuh Self Care. Hanya saja, perbedaan caranya bila tidak dikomunikasikan dan dipahami dengan baik oleh satu sama lain, akan sering menimbulkan konflik.
 
Baca juga: 3 Kekeliruan Tentang Self Care
 

9. Pandangan tentang Iman
Hmm… Gunther juga mengamati bahwa perbedaan pandangan dalam iman juga sumber konflik suami-istri dalam rumah tangga.
 

10. Pandangan tentang Mimpi Masa Depan
Gunther mengatakan bahwa ketika pertama kali menjalin hubungan, seseorang biasanya cenderung fokus pada kecocokan dan mengabaikan atau menekan hal-hal di mana mereka mungkin tidak cocok atau berbeda. Seiring berjalannya waktu, dan tantangan hidup meningkat, banyak dari perbedaan yang awalnya dikompromikan mulai muncul sebagai konflik yang mengganggu.
 
Yuk, pelajari juga 4 Teknik Mengomunikasikan Impian Pribadi pada Pasangan
 
Akan tetapi, Gunther mengatakan bahwa perbedaan pandangan ini dapat ditangani dan tetap bisa menjadi hal yang positif selama suami-istri mengomunikasikannya dengan baik dan mencari cara untuk mengatasi kesenjangan yang mereka alami. Lakukan 7 Cara Menghindari Pertengkaran Rumah Tangga ini begitu muncul perasaan tidak nyaman.
 
Baca juga:
Beda Pendapat dengan Suami dalam Mengasuh Anak, Atasi dengan 7 Hal Ini!
8 Pemicu Pertengkaran Suami-Istri Setelah Punya Anak
The Silent Killer dalam Pernikahan
3 Keluhan dalam Rumah Tangga yang Tidak Boleh Diabaikan
Papa Punya Teman Curhat tentang Rumah Tangga, Wajarkah?
 
LTF
FOTO: FREEPIK

 


Topic

#duniamama #relationship

 





Video

Lindungi Anak dari Kejahatan Pedofilia


Polling

10 Perbedaan Pandangan Suami-Istri yang Rentan Menimbulkan Konflik Rumah Tangga