Melindungi Anak dari Informasi Negatif Menjelang Pemilu (Bagian 2)


 

Di tahun politik ini, iklim semakin panas. Banyak berita bohong dan ujaran kebencian di mana-mana. Tak hanya di media, bahkan juga di lingkungan rumah dan sekolah. Anak-anak pun tak ayal turut bersinggungan dengannya.
 
Bila mereka mengutarakan pikiran negatif yang tidak sesuai dengan nilai yang ingin ditumbuhkan dalam keluarga serta tujuan pengasuhan Anda—baik itu tentang pemilu dan politik, negara, agama, ras, atau budaya—maka Anda perlu menindaklanjuti. Langkah yang dibagikan oleh Najeela Shihab, pendidik sekaligus pendiri Keluarga Kita, organisasi yang fokus pada pendidikan keluarga dan pengasuhan ini dapat Anda lakukan untuk menjaga si kecil dari informasi negatif atau tidak tepat selama pemilu.
 
Tidak Reaktif
Bila si kecil mengutarakan hal negatif tentang salah satu calon, pemilu, dan politik yang menurut Anda tidak sesuai dengan tujuan pengasuhan serta nilai yang ingin ditumbuhkan dalam keluarga, janganlah reaktif. “Saat Anda marah, anak-anak bisa jadi kapok dan tidak akan mau lagi berbicara dengan Anda perihal pemilu dan politik,” terang Najeela. Ia juga menambahkan, “Namun, jangan cuek. Ketika Anda cuek, Anda sedang melepaskan satu kesempatan emas untuk memberi mereka pemahaman yang lebih tepat.”
 
Observasi
Bila terjadi seperti peristiwa di atas, tanyakan dari mana ia mendengar informasi tersebut. Setelah itu, jangan terburu-buru menentangnya. Tanyakan dulu pendapatnya. Siapa tahu, yang dimaksudkan oleh anak bukan seperti apa yang dikatakan. Observasi ini penting untuk mengetahui apa yang harus Anda sampaikan berikutnya kepada anak.
 
Uninstall’ Bila Tidak Tepat
Bila Anda sudah mengetahui jawaban si kecil dan menurut Anda jawaban tersebut tidak sesuai dengan nilai-nilai yang ingin ditumbuhkan di keluarga dan tujuan pengasuhan, maka Anda bisa meluruskan pemahaman si kecil. Sebagai contoh, anak bicara bahwa bila salah satu presiden terpilih maka akan makin banyak orang kafir. Anda dapat mengatakan bahwa urusan keimanan adalah sesuatu yang sangat individual. Itu adalah hak dan kewajiban setiap orang. Tugas pemimpin adalah untuk memfasilitasi dan memberi keamanan warganya untuk beragama dan beribadah masing-masing. Anda juga bisa sampaikan bahwa keluarga Anda menghargai orang-orang dengan agama lain.
 
Sopan dan Gunakan Data
Orang tua adalah sosok yang selalu ditiru anak. Bila Anda terlibat perbincangan dengan anggota keluarga lain atau tetangga yang memberikan informasi tidak tepat atau bahkan berita bohong, jangan emosional, dan tetap sopan. Anda bisa selalu menggunakan data saat bicara. Misalnya dengan mengatakan, “Dari berita yang Mama baca, informasi itu tidak benar,” atau “Mama pernah membaca buku yang isinya justru tidak membenarkan informasi itu. Jadi Mama pikir, informasi itu tidak tepat.” Anak akan meniru bagaimana Anda bersikap dengan memiliki dasar yang tepat. Ini akan membantunya untuk tidak langsung menyerap informasi yang didapatkannya, tapi juga membandingkan dan mencernanya.
 
Gunakan Situs Pemeriksa Berita Bohong
Si kecil tiba-tiba ‘heboh’ karena mendapat sebuah pesan berantai tentang politik dan pemilu di aplikasi percakapannya. Ya, pesan seperti ini bisa masuk ke ponsel siapa saja, termasuk anak Anda. Ia bertanya-tanya apakah ini informasi yang benar? Sebab, di akhir pesan tersebut, ditulis bahwa siapa pun yang menerima harus membagikan ulang agar mendapat kebahagiaan.
 
Nah, di sini orang tua harus menjaga agar anak tidak termakan berita bohong dan menjadi penyebar berita bohong. Ajari ia cara mengecek kebenaran suatu berita dengan membuka situs pemeriksa fakta. Anda juga bisa mengajaknya membuka grup anti hoax di sosial media untuk memastikan. Dengan begini, ia akan mempunyai kebiasaan untuk selalu memeriksa fakta sebelum percaya dan ikut menyebarkan. Soal apakah ia tidak akan mendapat kebahagiaan karena tidak membagikan ulang pesan tersebut, katakan bahwa kebahagiaan akan didapat dengan melakukan hal yang baik, bukan melakukan hal yang buruk dengan menyebarkan informasi yang salah.
 
Catatan
Najelaa memperingatkan bahwa orang tua tidak perlu memaksakan pendapat kepada anak. Orang tua juga tidak bisa membuat anak memiliki pikiran yang benar-benar sama dengan Anda. Yang paling penting adalah orang tua memberi bekal pada anak untuk melindunginya agar tidak mudah termakan informasi negatif yang tidak tepat.
 
Baca juga:
Politik Pilkada Mengancam Rasa Toleransi Anak
Ajari Anak Pendidikan Politik
6 Kesalahan Orang Tua Membicarakan Politik dengan Anak (Bagian 1)
6 Kesalahan Orang Tua Membicarakan Politik dengan Anak (Bagian 2)
 

(LELA LATIFA)
FOTO: PIXABAY
 
 
 
 

 

 

Follow Us

Most Popular

Instagram Newsfeed

@parentingindonesia