Hati-hati, Kritik pada Anak Bisa Akibatkan Stres


Dengan dalih ingin anak melakukan kesalahan seminim mungkin, tidak jarang orang tua melontarkan kritik kepada anak. Hati-hati, ya, Ma, kritik bisa membuat anak stres, sehingga menghambat spontanitas, jika disampaikan pada saat dan dengan cara yang tidak tepat. Misalnya, saat anak sedang menggambar, Anda sedikit-sedikit mengomentari gambar dan warna yang dipilih anak. Kalau belum apa-apa sudah dikritik, yang akan timbul adalah rasa tidak nyaman dan cemas pada anak. Akan berbeda, jika kritik diberikan setelah selesai pekerjaannya, anak minta pendapat, dan Anda memberi masukan. “Orang tua harus bisa mengombinasikan antara kritik dan pujian, sehingga anak tahu di bagian mana dia sudah oke, dan di bagian mana dia perlu perbaikan. Kritik semacam itu tidak terlalu menghambat spontanitas anak,” kata Anna Surti Ariani (Nina), psikolog anak dan keluarga.   

Selain kritik, tuntutan yang terlampau tinggi dan banyak juga bisa menyebabkan anak kehilangan spontanitas. Tetapi, ini pun tergantung anaknya. Ada anak-anak tertentu yang memang harus diberi tantangan lebih dan standar ?lebih tinggi, karena kalau tidak, dia akan sulit berkembang. Tetapi, akan menjadi masalah, jika tuntutan dan standar itu dipaksakan kepada anak tanpa melihat kondisinya. Misalnya, biasanya anak mendapat nilai 6, lalu orang tua memaksa dia mencapai nilai 9. Tuntutan yang terlalu tinggi itu akan membuat anak menjadi stres dan cemas.     Apa pun yang menyebabkan kecemasan pada anak sebaiknya tidak dilakukan orang tua, karena pada intinya, kecemasan adalah penghambat utama spontanitas. “Termasuk, tuntutan-tuntutan tinggi itu, yang membuat anak berkurang spontanitas dan antusiasmenya untuk mencoba ini-itu,” kata Nina.

Akibatnya, kreativitas anak pun melemah. Ya, spontanitas adalah bagian dari kreativitas. Ketika banyak aturan kaku yang membentengi anak tanpa memberi dia keleluasaan berpikir atau melakukan sesuatu, anak menjadi tidak kreatif. Ide-ide spontannya tidak keluar. Dia akan lebih banyak diam atau menyimpan ide-ide dalam pikirannya saja, akibatnya dia bisa kehilangan kesempatan untuk menunjukkan kreativitas atau kemampuannya. Pada akhirnya, anak-anak yang lebih banyak memendam spontanitas dan kreativitasnya itu akan lebih banyak menjadi follower, tidak menjadi pemimpin. “Orang-orang sudah mengambil sikap dan mulai mengerjakan sesuatu, sementara dia masih berpikir terus, masih dalam proses. Biasanya, orang-orang yang tidak spontan ini memiliki kecemasan yang tinggi, yang menghambat dia melakukan macam-macam. Dia cemas menyakiti hati orang, merasa cemas reaksinya keliru, atau nanti disalahkan,” kata Nina.

Baca juga : Membangun Rasa Percaya Diri Anak 


 

 





Video

Lindungi Anak dari Kejahatan Pedofilia


Polling

Hati-hati, Kritik pada Anak Bisa Akibatkan Stres