12 Kunci Pengasuhan agar Anak Memiliki Empati


Tak ada yang salah dengan bersikap tegas maupun lunak pada anak-anak. Namun, ada satu pendekatan pengasuhan yang sedang diperbincangkan akhir-akhir ini, yakni peaceful parenting, yang mengedepankan cara-cara lembut dan penuh kesadaran. Pengasuhan ini juga menonjolkan solusi kooperatif dan lebih mengajak anak untuk berempati dalam menyadari kesalahannya dibanding menghukum, sehingga kelak ia mampu memecahkan masalah yang dihadapi.

Melalui hubungan orang tua anak yang didasari hubungan saling percaya, menghormati dan mencintai ini, diharapkan anak mampu mengembangkan keterampilan sosial, keterampilan hidup, dan kemampuan berpikir kritisnya sehingga kelak menjadi sosok yang cakap, welas asih, mampu menyelesaikan konflik, bertanggung jawab, dan menghormati diri sendiri dan orang lain.

Bagaimana cara bertransformasi ke gaya pengasuhan ini? Berikut 12 tip transisi menuju peaceful parenting dari Laura Markham, Ph.D., penulis buku Peaceful Parent, Happy Kids: How To Stop Yelling and Start Connecting sebagaimana dilansir dari psychologytoday.com.

1. Berdamai dengan diri sendiri
Atur emosi Anda. Setiap kali Anda merasa kesal atau marah, lakukan ini: stop bicara, hentikan aktivitas, dan tarik napas.

2. Fokus pada interkoneksi
Mulailah fokus membangun bonding yang lebih baik. Tanpanya, anak akan selalu menguji kesabaran Anda dan tak termotivasi memperbaiki perilakunya.

3. Jelaskan apa yang terjadi
Saat anak sudah cooling down, jelaskan alasan mama meminta anak menjalani konsekuensi atas perbuatannya. Jangan lupa, tetap beri anak motivasi, misalnya, dengan mengatakan anak sudah bersikap lebih baik dari sebelumnya.

4.Ajak anak lebih kooperatif
Misalnya, katakan pada anak bahwa Anda ingin semua orang bersama-sama membuat suasana menjadi lebih baik. “Mama akan berusaha keras agar tidak marah-marah, mendengarkan dan bersikap baik sama Kakak. Tapi Kakak juga berjanji agar selalu baik sama Adik, ya?”.

5. Win-win solutions
Jangan marah-marah dulu saat anak terlibat masalah, tapi tawarkan solusi yang lebih baik. Misalnya, saat si sulung memarahi si adik karena memainkan mainan kesukaannya tanpa izin, katakan, “Mama tahu kamu marah pada adikmu, tapi jangan memukul adik, ya. Yuk, kita cari saja tempat menyimpan yang aman agar adik tidak bisa mengambilnya sembarangan.”

6. Buat batasan
Semakin mama fleksibel dalam menangani kesalahan anak, maka semakin baik kesan Anda di mata anak. Terapkan batasan dengan tetap mengindahkan sudut pandang anak. Saat ia menolak untuk lekas mandi dan berhenti bermain, coba katakan, “Kamu ingin terus main dan tidak berhenti sampai saatnya tidur. Ya, Mama yakin kalau kamu sudah besar, kamu main sepanjang malam setiap hari. Tapi sekarang, kita mandi dulu ya.”

7. Bantu anak mengeluarkan emosi
Saat anak menerima konsekuensi, ia akan merasakan sebuah gelombang emosi yang diterjemahkan sebagai kemarahan. Saat itulah ia mulai berulah. Hal ini bukan tantangan pribadi untuk Anda, namun ia hanya perlu mengeluarkan apa yang dirasakannya namun sulit diungkapkan dengan kata-kata. Bantu anak mengenali apa yang dirasakannya dan bagaimana mengungkapkannya dengan baik.

8. Beri rasa aman
Saat anak kesal, tetaplah tenang dan jangan terpancing untuk marah. Semakin Anda mampu menunjukkan sikap berempati dan sabar, semakin anak merasa aman sehingga ia mampu mengurai kekesalannya sendiri. Saat anak mampu mengekspresikan emosi pada Anda, semakin ia mampu menyembuhkan diri sendiri.

9. Jelaskan dengan cerita
Gunakan cerita untuk mempermudah anak memahami emosi. Misalnya, ceritakan bagaimana mama dulu sering marah-marah karena tidak mengerti apa yang diinginkan anak. Tapi sekarang, mama berusaha keras untuk menahan marah sehingga ia tak perlu takut mengatakan yang diinginkan. Saat bercerita,tetaplah kedepankan empati dan jangan menganalisis sehingga tak berkesan menggurui.

10. Reparasi
Saat anak mengulang kesalahan, kendati Anda pernah memberinya konsekuensi, jangan buru-buru merasa gagal. Ajarkan diri Anda untuk mereparasi konsekuensi pada anak. Ajak si kecil berdiskusi secara pribadi. Biarkan ia bercerita sesuai sudut pandangnya, dengarkan dan cobalah berempati. Setelah ia mampu melogika kekesalannya, beri beberapa penekanan hal yang kurang tepat tanpa menyalahkan atau mengguruinya.

11. Role model memaafkan
Jangan pernah memaksa anak untuk meminta maaf setelah membuat kesalahan, itu hanya akan membuatnya makin kesal atau benci pada orang lain. Akan lebih baik jika Anda memberi contoh meminta maaf pada orang lain, yang kelak ditiru oleh anak.

12. Jangan masalahkan kemunduran
Jika Anda merasa masih melakukan kesalahan-kesalahan pengasuhan tradisional, maafkan diri Anda. Ya, parenting itu memang sulit apalagi saat
memulai bertransisi ke peaceful parenting. Namun lama kelamaan ini akan menjadi lebih mudah. Percayalah!

Foto: 123rf

Baca juga : Ekspresikan Kasih Sayang Depan Anak

 

Edisi Terbaru

Love to learn

Follow Us

Instagram Newsfeed

@parentingindonesia