Snowball dan Snowbill
23 October 2011 - 10:38 WIB    Oleh : Dehariana
0 replies

Saya sering menyebut mereka sebagai: bola bulu! Apapun yang mereka lakukan selalu membuat saya dan anak-anak tersenyum. Walaupun kadang suami bersungut-sungut karena kami selalu keasyikan bermain bersama kucing-kucing kecil ini (karena ia tak suka kucing), saya merasa bahagia karena anak-anak mewarisi kecintaan mereka pada kucing dari saya, hehehe…

Saat ini kami hanya memiliki tiga kucing, Snowpea, Snowball dan Snowbill. Snowpea adalah si induk (sang ayah, Snowboo, kabur dari rumah). Awalnya, suami tidak setuju kami memelihara kucing karena kondisi rumah yang berhalaman sempit membuatnya khawatir peliharaan kami kekurangan tempat untuk bermain. Saya pun sebenarnya setuju. Namun ketika anak-anak memohon untuk memelihara kucing di dalam rumah (dengan perjanjian ditaruh di dalam kandang), akhirnya hati kami pun jadi luluh.

Seorang psikolog pernah mengatakan pada saya bahwa memiliki binatang peliharaan di rumah bisa memberi banyak manfaat pada anak-anak. Mereka akan lebih terasah kemampuan berempatinya dan belajar untuk mengekspresikan rasa sayang dengan cara merawat dan menjaga kebutuhan peliharaannya agar selalu terpenuhi. Kedengarannya seperti pembenaran saja ya? Hahaha…. Pada dasarnya, saya yang sangat mencintai kucing memang sudah lama ingin memelihara kucing lagi. Dengan adanya ‘dukungan’ dari anak-anak, keinginan saya pun pada akhirnya terwujud.

Entah mengapa saya begitu mencintai binatang berbulu yang satu ini. Suami saya sempat menunjukkan gejala ‘tak tahan’ dekat-dekat dengan kucing supaya saya tidak terlalu tergila-gila lagi. Lalu saya kemudian tahu bahwa sebenarnya ia tidak bermasalah dengan kucing, hanya malas saja memikirkan harus mengurus segala keperluannya. Nyatanya, saya sering menangkap basah dirinya sedang memandangi kucing-kucing yang sedang berlarian itu dengan pandangan penasaran.

“Pantesan anak-anak nempel banget sama kucing-kucingnya, kelakuannya aja sama!” kata suami suatu hari. Anak-anak saya memang tipe anak yang tak bisa diam, selalu berlarian, meloncat, berguling-guling, atau bermain tendang dan pukul kapanpun mereka ingin. Mirip sekali dengan tingkah Snowball dan Snowbill, dua kucing kecil yang baru berusia 2 bulan itu saat tidak sedang menyusu pada induknya.

Saat Snowboo hilang, saya menangis karena merasa sangat menyesal meninggalkan pintu kandang terbuka tanpa mengingatkan si mbak. Sampai sekarang saya masih sering merasa bersalah membuat kucing-kucing kecil itu kehilangan ayah mereka. Padahal, Snowboo adalah tipe kucing jantan yang sayang anak. Ia tak segan menjilati anak-anaknya atau menemani mereka tidur.

Diam-diam Farrel (11) pun masih suka meneteskan air mata saat mengingat Snowboo, karena kucing itu memang hanya menurut pada Farrel. Wah, mission accomplished! Walaupun harus kehilangan seekor kucing dulu, saya melihat anak-anak memang menjadi lebih memperhatikan dan protektif pada kucing-kucing kami agar tidak ada yang hilang lagi. Kami akan saling mengingatkan jika pintu kandang terbuka dan menutup kembali pintu saat ke luar rumah. Mereka akan segera bergerak saat saya mengingatkan bahwa makanan dan air minum kucing di kandang sudah habis dan harus diisi lagi.

Memelihara kucing memang bukan suatu hal yang aneh, banyak keluarga yang juga melakukannya. Namun kami menyadari bahwa selama ini, kucing-kucing tersebut membuat hari-hari kami terasa lebih menyenangkan. Saat kita sedang sedih, kucing akan merasakannya dan mendekati untuk menghibur. Kucing-kucing yang lebih kecil begitu lucu dan ceria sehingga kita merasa beruntung bisa mengelus dan menggendong-gendong mereka. Hati pun terasa riang kembali setelahnya. - DHA






   Komentar


Belum ada komentar
Tulis Komentar
 
200 Karakter tersedia

Dengan Meng-klik tombol kirim berarti kamu telah menyetujui Privacy Policy dan Disclaimer Kami.