Aduh, anakku ngomong kasar!
27 May 2011 - 15:12 WIB    Oleh : vania rossa
2 replies

“Mama kaya orang gila!”

Kebayang betapa kagetnya saya ketika pertama kali mendengar Kafka mengucapkan kalimat itu. Reaksi saya? Khas orangtua pada umumnya: Memarahinya! “Eh, dengar dari mana kata-kata itu? Gak boleh begitu sama Mama,” kata saya. Dimarahi sambil dipelototi begitu, Kafka cuma diam saja.

Rasa kaget dan marah ketika pertama kali mendengar Kafka ngomong gak sopan itu, bertambah berkali-kali lipat ketika ia mengulangi kata-kata tersebut untuk kedua dan ketiga kalinya. Reaksi saya masih tetap sama, memarahi sambil memelototinya. Duhh…, saya benar-benar ngerasa jadi orangtua yang gagal karena anak saya bisa melontarkan kata-kata nggak sopan itu di usianya yang baru 3,5 tahun.  

Beberapa lama kemudian, Kafka nggak pernah lagi ngomong nggak sopan seperti di atas (yah… setidaknya di depan saya atau papanya). Sebagai gantinya, dia akan bilang begini, “Mama kaya pintu!”, atau “Mama kaya tangga!”, atau apapun tergantung benda apa yang saat itu sedang dilihatnya. Saya memang tidak memarahinya, tapi saya kemudian berpikir keras mencari cara agar Kafka nggak pernah lagi ngomong seperti itu, kepada siapapun. Saya takut ia jadi terbiasa dengan kalimat tersebut setiap kali sedang marah atau ngambek.

Entah dari mana saya dapat ide, suatu kali ketika Kafka kembali mengucapkan kalimat seperti di atas “Mama kaya orang gila!”, saya, dengan ekspresi datar, berkata, “Kalau mama kaya orang gila, berarti Kafka anak mama kaya orang gila juga, dong… Kafka orang gila, bukan?”

“Bukan,” Kafka menjawab otomatis.

“Nah, kalau Kafka bukan orang gila, berarti Mama juga bukan orang gila, dong. Iya, kan?” Kafka mengangguk menyetujui perkataan saya.

Yah…beberapa kali Kafka memang masih mengucapkan kalimat nggak sopan itu, sih. Tapi, saya terus konsisten membalikkan kata-katanya itu dengan kalimat andalan saya. “Kalau Mama kaya pintu, berarti anak Mama ini juga kaya pintu, dong?”

Saya percaya, cara yang saya gunakan jauh lebih efektif daripada memarahinya. Sampai saat ini sih, Kafka sudah jarang banget ngomong nggak sopan sama saya atau pengasuhnya. Mudah-mudahan saja cara yang saya terapkan menang benar-benar efektif dan seterusnya bakalan seperti itu.   







   Komentar

vaniarossa Wrote On 12 Jun 2011
...nah, ketika anak mendapat "sambutan" positif dari "aksi perdananya" tersebut, maka ia akan cenderung untuk mengulanginya kembali, lagi dan lagi.. sambutan positif itu seperti tawa dan tepuk tangan
vaniarossa Wrote On 12 Jun 2011
biasanya anak mengucapkan kata kasar itu awalnya untuk "coba-coba" ,mengamati dan melihat reaksi dari orang sekitar tentang kata yang baru "dipelajarinya" tersebut...
Tulis Komentar
 
200 Karakter tersedia

Dengan Meng-klik tombol kirim berarti kamu telah menyetujui Privacy Policy dan Disclaimer Kami.