8 Konflik Rumah Tangga yang Paling Sering Dihadapi Pasangan Setelah Punya Anak




Saat anak lahir, kehidupan rumah tangga bisa berubah sekian derajat. Kita yang tumbuh dewasa dengan dongeng-dongeng lawas tentang kehidupan para putri  yang selalu diakhiri dengan kalimat, “Putri dan Pangeran pun menikah dan hidup bahagia selamanya. Tamat,” pun akan benar-benar mengalami babak baru rumah tangga setelah punya anak.  
 
Kehidupan pernikahan atau rumah tangga kita tidaklah seperti dongeng para putri dan pangeran. Kita perlu realistis. Carol Ummel Lindquist, Ph.D., psikolog di California, penulis Happily Married with Kids mengingatkan bahwa ada berbagai drama yang akan Anda hadapi di dalam pernikahan, terutama setelah kehadiran si kecil.
 
Carol  mengatakan bahwa kehadiran anak bisa menjadi ‘hambatan’ bagi hubungan rumah tangga Anda. Butuh banyak energi untuk menjaga pernikahan Anda tetap harmonis.
 
Berikut ini adalah berbagai konflik rumah tangga yang paling sering dihadapi pasangan setelah punya anak menurut Carol:
 

1. Saling Iri dengan Pembagian Tugas
Saat belum punya anak, tentu saja pekerjaan Anda tak akan sebanyak sekarang. Kadang ada perasaan saling iri antara Papa dan Mama tentang siapa yang harus memandikan anak-anak, menemani mereka makan, mengantar-jemput sekolah atau les, mengajari mereka untuk mengerjakan PR, serta menyelesaikan pekerjaan rumah yang menumpuk.
 
Apalagi, saat Anda lelah dan melihat pasangan Anda sedang duduk-duduk dengan ponsel di tangannya. Anda mungkin berpikir, “Enak banget kamu bisa santai dan tidak melakukan apa pun!”  
 
Angkat tangan, siapa yang sering begini? Hati-hati, cara komunikasi yang seperti ini termasuk satu dari 4 Kesalahan komunikasi yang Sering Terjadi dalam Hubungan, lho.
 
Untuk mengatasi ini, Carol menyarankan pembagian tugas yang jelas dan adil agar tidak ada lagi perasaan iri yang merusak hubungan Anda.
 

2. Perbedaan Standar dan Cara Mengasuh
Berbagi tentang filosofi pengasuhan bersama pasangan sebelum menikah atau sebelum anak pertama Anda lahir memang menjadi hal yang menggairahkan. Akan tetapi, pada pelaksanannya, sering kali Anda dan pasangan memiliki perbedaan cara yang memicu perdebatan.
 
Misalnya saja, Mama dianggap lebih disiplin dan Papa dianggap lebih santai. Anda dan pasangan juga sering kali memiliki standar yang berbeda sehingga sering memunculkan konflik. Untuk itu, komunikasikan harapan dan batasan Anda dengan jelas. Ketahui perbedaan laki-laki dan perempuan dalam berkomunikasi untuk menghindari salah paham.
 

3. Kehidupan Seks Menurun
Dengan anak yang masih bayi, Mama sering kehilangan gairah seks akibat terlalu lelah mengurus si kecil. Selain itu, saat anak tidur pun, alih-alih berhubungan seks, hal yang diinginkan Mama adalah tidur.
 
Ini akan semakin menantang dengan balita yang masih tidur sekamar dengan Anda. Tentu saja, Anda dan suami takut anak terbangun. Akhirnya, seks dilakukan dengan terburu-buru dan tanpa foreplay.
 
Baca juga Mengapa Topik Seksual Sering Dihindari Pasangan
 
 

4. Couple Time = Family Time
Anda tak lagi bisa leluasa menikmati waktu berdua dengan pasangan. Waktu bersama pasangan artinya adalah family time, sebab anak pasti mengekor di belakang Anda berdua.
 
Kurangnya couple time ini membuat koneksi Anda dan suami menurun. Koneksi yang buruk rentan membuat Anda lebih sering beradu pendapat, merasa tidak dipahami, dan tidak bisa mendapatkan hubungan yang berkualitas.
 

5. Kehilangan Me Time
Ini sering dikeluhkan oleh semua orang yang sudah menikah dengan anak. Tekanan waktu di tengah tuntutan peran membuat Anda dan suami kehilangan me time. Saat Anda tidak punya waktu untuk sendiri, Anda jadi lebih rentan stres. Ini akan berpengaruh buruk pada hubungan Anda.
 
Ada banyak manfaat yang bisa Anda peroleh dari me time. Anda bisa mengisi tangka cinta untuk diri sendiri. Saat tangki cinta sudah full, Anda pun siap membagikannya pada seluruh keluarga. Tak hanya Mama, Papa Juga Butuh Self Care . Manfaatkan me time, untuk melakukannya dan mendapatkan manfaatnya.
 

6. Intervensi Kakek-Nenek
Nah, angkat tangan yang sering mengalami ini! Anda tahu betul bahwa kakek dan nenek anak Anda memang sangat menyayanginya. Tetapi, mereka kadang kelewat jauh intervensi pada pengasuhan anak. Bahkan, sering kali apa yang mereka lakukan bertentangan dengan prinsip pengasuhan Anda.
 
Susah memang mengatasi ini. Namun, lebih tegas menyampaikan prinsip Anda pada kakek-nenek akan membantu.
 

7. Masalah dengan Mertua
Dulu sebelum menikah, mertua Anda baik dan kelihatan sangat menyayangi Anda. Tapi, saat sudah menikah kenapa mereka lebih sering sewot, ya, pada Anda? Rasa-rasanya semua yang Anda lakukan salah. Anda dianggap sebagai istri dan ibu yang tak becus.
 
Carol menjelaskan bahwa hal tersebut wajar terjadi. Orang tua perempuan dari anak laki-laki sering merasa kehilangan power saat anaknya menikah. Ada berbagai kecemasan pada diri mereka yang membuat mereka takut kehilangan kasih sayang dan perhatian dari anaknya. Bila Anda berkonflik dengan mertua, minta suami Anda menjadi penengah yang mampu mengakomodir kedua belah pihak ya, Ma!
 
Anda bisa coba 6 Tip Hidup Rukun dengan Mertua berikut
 
 

8. Uang
Punya anak membuat Anda punya pengeluaran ekstra, apalagi bila ia semakin bertambah usia. Urusan ini termasuk sensitif dan bisa memicu permasalahan bila tidak ada keterbukaan antara Anda dan pasangan.
 
Keterlibatan kedua orang tua sangat dibutuhkan dalam mengasuh anak. Bahkan, ada 10 Kelebihan Anak Jika Papa Terlibat Mengasuhnya
 
 
Baca juga:
8 Indikasi Masalah Keuangan dalam Pernikahan
The Silent Killer dalam Pernikahan
9 Jenis Pikiran Toxic dalam Pernikahan
7 Tanda Pernikahan Toxic
10 Kunci Pernikahan Sehat
 
LTF
FOTO: SHUTTERSTOCK

 


Topic

#suamiistri

 





Video

Lindungi Anak dari Kejahatan Pedofilia


Polling

8 Konflik Rumah Tangga yang Paling Sering Dihadapi Pasangan Setelah Punya Anak