Pandemi Belum Usai, Harapan Anak: Orang Tua Mau Ikut Main

orang tua perlu menemani anak bermain


Pandemi sudah berjalan lebih dari satu setengah tahun. Sudah selama itu pula anak-anak terus di rumah saja. Bagaimana pun, menjaga untuk tidak keluar rumah bila tidak ada sesuatu yang penting memang lebih baik, mengingat belum tersedianya vaksin COVID-19 untuk usia dini. Tentunya hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi orang tua dan anak-anak itu sendiri.
 
Psikolog Klinis dan Keluarga, Pritta Tyas Mangestuti, M.Psi., menyampaikan bahwa selama pandemi ini banyak kliennya yang mengalami keterlambatan tumbuh kembang, terutama dalam hal bicara. Hal ini salah satunya ditengarai karena terlalu banyak screen time saat pandemi. “Karena sekolah di rumah, fasilitas terbatas juga, ya. Terbatas pada layar,” ujarnya. “Kalau anak sekolah dini, kan, di sekolah ada play ground, ayunan, prosotan,” imbuhnya.
 
Baca juga: Kenali Tanda Bahaya (Red Flag) Perkembangan Umum Balita Anda
 
Bermain Meminimalkan Risiko Keterlambatan Tumbuh Kembang
Dalam webinar Ayo Main IKEA, Pritta mengatakan bahwa anak-anak sangat membutuhkan waktu bermain di luar layar. Ia menjelaskan bahwa anak-anak sampai usia 4 tahun membutuhkan 180 menit permainan fisik setiap hari. Sementara, untuk anak di atas 5 tahun, mereka membutuhkan setidaknya 60 menit aktivitas fisik setiap harinya.
 
Baca juga: 18 Ide Permainan Agar Anak Aktif Bergerak
 
Hal tersebut menurut Pritta punya berbagai konsekuensi. Ia mengatakan, “Karena di rumah terus, geraknya terbatas, variasi terbatas, tidak semua orang tua punya knowledge tentang variasi mainan yang diberikan sehingga ini dampaknya ke mana-mana.”
 
Kurang bermain sensori menyebabkan indra anak juga jadi kurang terstimulasi. Ia menegaskan bahwa bermain dapat meminimalkan risiko keterlambatan di tumbuh kembang anak.
 
Baca juga: 6 Jenis Bermain pada Anak-anak
 
Bermain Menjaga Kesehatan Mental
Dampak lain dari kurangnya waktu bermain selain terhambatnya milestone adalah anak jadi lebih mudah tantrum, tampak susah didisiplinkan. Hal tersebut bisa disebabkan karena anak kurang waktu untuk bermain bersama orang tua. Dyah Fitrisally, Country Marketing Manager IKEA Indonesia mengatakan, “Secara fisik memang di rumah, tapi energi, perhatian orang tua nggak ke anak. Interaksi, bonding-nya nggak ada.”
 
Baca juga: Tenangkan Tantrum Si Kecil dengan 7 Kalimat Ini
 
Padahal, dari penjelasan Pritta, emosi anak-anak memang sangat dipengaruhi oleh interaksinya dengan orang tua. “Mood atau emosi anak itu fondasinya adalah strong relationship dengan keluarga. Jadi, sebetulnya, tugas utama orang tua sebenarnya building strong relationship dengan anak-anak,” ujarnya.
 
Bermain juga bermanfaat untuk menjaga kesehatan mental yang banyak jadi sorotan saat pandemi ini. Sally mengatakan, “Kita visit ke rumah-rumah di seluruh dunia. Karena pandemi ini, banyak berdampak negatif ke mental health anak maupun orang tua.” Hal ini disebabkan oleh rasa bosan, keterbatasan, serta kecemasan saat pandemi. Di samping itu, hal ini juga mungkin dikarenakan kurangnya koneksi antara anak dan orang tua.
 
Baca juga: Pandemi Memengaruhi Kesehatan Mental Anak
 


Anak-anak Berharap Orang Tua Ikut Menemani Main
Dewi Sri Sumanah, Media & Brand Manager Communication Save the Children Indonesia, mengatakan bahwa dari survei yang diadakan oleh pihaknya, ditemukan bahwa ada tiga harapan utama dari anak-anak yang menjadi respondennya, yakni waktu bermain yang berkualitas; ketersediaan area yang aman untuk bermain; dan ada orang dewasa yang mendampingi bermain. Dari sini Dewi juga menyepakati tentang pentingnya orang tua ikut bermain bersama anak.
 
Sally mengatakan, “Bukan cuma untuk anak, tapi kami mendorong orang tua juga untuk main sama anak. Main bukan hanya untuk mental health anak, tapi juga orang tua. Orang tua butuh stress release juga.”
 
Hal inilah yang menjadi latar belakang inisiasi kampanye Ayo Main (Let’s Play) bertajuk ‘Bebas #Mainkan Sesukamu’ oleh IKEA. Lewat kampanye ini, IKEA Indonesia ingin mengingatkan bahwa bermain memiliki manfaat yang signifikan untuk kesehatan mental serta mempererat hubungan anak dengan orang tua.
 
“Dengan produk-produk yang simpel banget, main bisa seru. Orang tua juga bisa menemukan ide bermain di website. Kami punya satu halaman khusus tentang bermain, ada detail dan videonya,” tuturnya. Ia menambahkan, “Seri mainan IKEA, seperti LILLABO, JATTELIK, DJUNGELSKOG, LUSTIGT, dan BYGGLEK dapat melengkapi kegiatan bermain di rumah,” tutup Sally.
 
Dalam kampanye ini, IKEA Indonesia mengadakan serangkaian acara online, seperti serial webinar yang membahas topik-topik parenting menarik, menyediakan ide bermain yang tersedia di website IKEA.co.id. Selain itu, ada aktivasi in-store yang dapat diikuti oleh anak-anak dan orang tua. Kampanye ini dimulai dari tanggal 1 November 2021 hingga 5 Desember 2021.
 
Pritta mengingatkan bahwa kunci bermain bersama anak adalah mengikuti minat anak terlebih dahulu. Biarkan anak memilih permainan yang mereka inginkan. Orang tua jangan pernah memaksakan permainan pilihannya. Di samping itu, jangan juga terlalu mengintervensi cara anak bermain. “Freedom with limitation, yang penting tidak membahayakan, tidak menyakiti, tidak merusak,” ujarnya. Luangkanlah waktu bermain bersama anak dalam satu hari di mana Anda tidak terintervensi oleh apa pun, pekerjaan atau gadget misalnya.
 
Sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat terdampak Covid-19, IKEA Indonesia juga berkolaborasi dengan organisasi kemanusian terkemuka untuk anak-anak, Save The Children, dalam program Senyum untuk Anak. IKEA mengadakan program 1 DJUNGELSKOG=1 EURO untuk mengumpulkan  donasi program Senyum untuk Anak. Setiap pembelian boneka seri DJUNGELSKOG di seluruh gerai IKEA Indonesia, konsumen telah memberikan donasi sebesar 1 Euro untuk anak-anak yang terdampak Covid-19.
 
Baca juga:
Yuk, Ajak Anak Bermain Sesuai Usianya!
Asah Otak Dengan Bermain
8 Permainan Seru Melatih Kemampuan Lokomotor Anak
5 Ide Permainan Melatih Anak Berperilaku Baik
 
LTF
FOTO: SHUTTERSTOCK, IKEA

 


Topic

#balita #pengasuhananak #parenting

 





Video

Lindungi Anak dari Kejahatan Pedofilia


Polling

Pandemi Belum Usai, Harapan Anak: Orang Tua Mau Ikut Main