10 Langkah Belajar Menghilangkan Kebiasaan Membentak Anak




Sering kali tingkah anak-anak yang rewel, tantrum, tidak mau mendengarkan atau membantah seolah menjadi pembenaran bagi orang tua untuk membentak. “Kalau nggak dibentak, mereka nggak akan berhenti atau nggak akan segera bergerak,” begitu kira-kira kata orang tua.
 
Mari kita renungkan bersama, anak-anak dituntut untuk selalu belajar bertingkah baik sehingga tidak membuat orang tua kesal. Padahal semestinya bukan hanya anak-anak yang perlu belajar. Justru, orang tua juga harus belajar mengontrol emosinya agar tidak sampai kelepasan membentak anak.
 
Jika Anak Terlalu Sering Dibentak
Laura Markham, Ph.D., psikolog klinis dan penulis Peaceful Parent, Happy Kids: How To Stop Yelling and Start Connecting menyebut bahwa membentak membuat anak-anak takut. Bahkan, menurut Laura ketika anak-anak tidak tampak takut padahal orang tua sering membentak, ini justru merupakan indikasi bahwa anak sudah belajar tidak peduli alias bebal.
Laura menuturkan bahwa bahaya lain yang mengintai ketika orang tua terlalu sering membentak anak adalah anak akan menjadi jauh dari orang tua. “Dan ketika anak-anak mengeraskan hati mereka kepada kita, mereka menjadi lebih terbuka terhadap peer pressure,” ujarnya. Kita kehilangan pengaruh kita karena mereka lebih mendengarkan temannya. Hal ini tentu tak akan baik untuk dampak pengasuhan dalam jangka panjang.
Baca 6 Dampak Sering Membentak Anak untuk mengetahui lebih banyak.
 
Reparenting Yourself
Jujur saja, kelepasan membentak anak juga membawa perasaan tidak nyaman bagi orang tua. Sering, tidak, sih, menyesal setelah melakukannya? Apalagi saat melihat anak tertidur pulas.
 
Bila Anda ingin belajar menghilangkan kebiasaan membentak anak, menurut Laura, hal yang bisa Anda lakukan adalah dengan mengasuh kembali diri Anda sendiri dengan penuh kasih. Belajar untuk menyayangi diri sendiri, mengenali emosi dan mengelolanya, bukan melampiaskannya pada anak-anak. Apa yang bisa Anda lakukan?
 

1. Sadarilah bahwa pekerjaan utama orang tua adalah mengelola emosi Anda sendiri. Sehingga, dengan mencontohkan regulasi emosi, Anda juga dapat membantu anak belajar mengelola emosinya. “Anak-anak belajar empati ketika kita berempati pada mereka. Mereka belajar berteriak pada kita ketika kita meninggikan suara kita pada mereka,” ujar Laura. 

2. Berkomitmenlah kepada anak bahwa Anda akan berusaha menggunakan suara yang stabil dan penuh hormat. Beritahukan pada mereka bahwa Anda sedang belajar dan mungkin membuat kesalahan, akan tetapi Anda berusaha untuk menjadi lebih baik. 

3. Ingatlah bahwa anak-anak bukan manusia dewasa. Mereka belum mampu berpikir seperti Anda. Otak frontal cortex mereka belum sepenuhnya berkembang sebelum usia 25 tahun. Sehingga, emosi mereka masih sering menguasainya dan membuat mereka tidak dapat berpikir jernih. 

4. Berhentilah menumpuk emosi negatif yang dapat membuat Anda meledak sewaktu-waktu. Anak yang rewel mungkin hanya satu dari sekian penyebab kekesalan Anda. Nah, agar tidak sampai kelepasan ‘memuntahkan’ emosi yang sudah menumpuk di depan mereka, maka segera istrirahatkan diri Anda begitu ada emosi negatif yang dirasakan. 

5. Berempatilah pada anak ketika mereka mengekspresikan emosinya—emosi apa pun itu—bahkan ketika mereka tantrum atau menangis. Hal ini akan membuat mereka belajar menerima perasaannya sendiri, yang merupakan langkah pertama dalam belajar mengelolanya. “Begitu anak dapat mengelola emosinya, mereka dapat mengelola perilakunya,” ujar Laura. Hal tersebut akan membuat mereka tidak membuat masalah. 
Baca juga: 7 Cara Mengajarkan Empati pada Anak
 

6. Coba lihat segala sesuatu dari sudut pandang anak Anda. Menurut Laura, ketika anak-anak percaya bahwa kita ada di pihak mereka, mereka akan berperilaku lebih baik dan lebih bisa menerima aturan yang kita buat. 

7. Saat mulai marah, berhentilah. “Tutup mulutmu. Jangan mengambil tindakan atau membuat keputusan apa pun. Bernapas dalam-dalam. Jika Anda sudah berteriak, berhenti di tengah kalimat. Jangan lanjutkan sampai Anda tenang,” ucap Laura memberikan kunci. 

8. Tarik napas panjang dan dalam. Jika memungkinkan, pergilah sejenak. Jika tidak, percikkan air ke wajah Anda untuk mengalihkan perhatian Anda dari anak Anda ke keadaan batin Anda. “Di bawah kemarahan itu ada ketakutan, kesedihan, dan kekecewaan,” ujar Laura. Ia juga menyarankan untuk menangis jika perlu.  “Begitu Anda membiarkan diri Anda merasakan apa yang ada di balik kemarahan tanpa mengambil tindakan, kemarahan itu akan mencair begitu saja,” katanya. 

9. Ucapkan mantra: "Saya tidak harus menang di sini. Saya bisa membiarkan dia …." 

10. Ambil tindakan positif seperti meminta maaf atau menanyakan perasaan anak. Ini mungkin berarti Anda membantu anak Anda yang rewel dengan perasaannya, sehingga dia dapat menangis dengan baik dan Anda semua dapat menjalani hari yang lebih baik. “Ambil satu langkah untuk membantu semua orang merasa, dan melakukan yang lebih baik,” kata Laura. 
Anda juga bisa meminta maaf pada anak setiap menjelang tidur atas semua hal yang membuat mereka tidak nyaman di hari itu. Hal ini  memiliki dampak positif pada ikatan Anda dan anak.
 
Baca juga:
12 Kunci Pengasuhan agar Anak Memiliki Empati
Orang Tua Bahagia = Anak Bahagia
7 Dampak Toxic Parent bagi Anak
 
 
LTF
FOTO: SHUTTERSTOCK

 


Topic

#duniamama #selfcare

 





Video

Lindungi Anak dari Kejahatan Pedofilia


Polling

10 Langkah Belajar Menghilangkan Kebiasaan Membentak Anak