Melindungi Anak dari Informasi Negatif Menjelang Pemilu (Bagian 1)


 

Pemilihan umum sebentar lagi. Spanduk dan baliho para calon—baik capres dan cawapres serta caleg, bendera partai, iklan partai di TV, sesi debat calon, sampai kampanye blusukan dari pintu ke pintu berseliweran.
 
Sebagai orang dewasa, Anda, para orang tua mungkin merasakan sendiri iklim politik yang memanas menjelang pemilu. Anda melihat dua kubu pendukung saling serang di media sosial. Anda mendapat banyak pesan bohong atau yang bersifat menakut-nakuti di grup percakapan seperti whatsapp, dan masih banyak lagi.
 
Jangan harap anak Anda aman dari paparan-paparan tersebut hanya karena mereka tidak main gadget dan tidak punya sosial media. Di tengah derasnya arus informasi yang bertubi-tubi ini, putra-putri Anda sangat mungkin juga terpapar informasi negatif yang membentuk persepsi atau pemikiran negatif pula pada diri mereka.
 
Menurut Najeela Shihab, pendidik dan pendiri Keluarga Kita, organisasi yang fokus pada pendidikan keluarga serta pengasuhan, anak-anak usia sekolah dasar sudah cukup umur untuk dapat menyerap informasi-informasi menjelang pemilu. Informasi negatif tersebut menurut Najeela bisa berupa merendahkan integritas calon pemimpin dengan isu-isu yang kurang tepat seperti agama, ras, dan pernyataan tanpa dasar penelitian ilmiah mengenai apa yang terjadi bila salah satu calon terpilih itu memimpin.
 
Sayangnya, Najeela melanjutkan, anak-anak belum tentu dapat menyaring informasi tersebut, mana yang tepat dan tidak tepat, yang baik dan tidak baik. Najeela mengatakan bahwa tantangan orang tua saat ini dalam memberikan wawasan tentang politik kepada anak adalah derasnya informasi dari berbagai arah, yang sering kali diisi dengan hoax atau berita bohong serta ujaran kebencian. “Sayangnya, melihat kondisi di Indonesia belakangan ini, berbicara soal pemilu dan sistem politik memang jauh lebih banyak contoh buruknya. Contohnya, tidak bisa saling menerima pendapat, kampanye dengan hoax, dan lain sebagainya,” ujarnya.
 
Najelaa mengatakan, “Yang perlu digarisbawahi, jika tidak sesuai dengan tujuan pengasuhan kita, informasi-informasi negatif ini dapat merusak.” Sehingga, orang tua perlu menyelaraskan informasi yang masuk ke anak dengan tujuan pengasuhan keluarga.
 
Berikut ini, Najeela memberikan saran bagi orang tua untuk melindungi anak-anaknya dari informasi negatif seputar pemilu:
 
Ajak Bicara
Topik politik tak perlu dihindari. Justru libatkan anak untuk bicara tentang politik. Membahas tentang pemilihan umum bisa menjadi pintu masuk yang lebih mudah dipahami anak-anak tentang politik. Anda bisa juga mengajak anak membicarakan soal kebijakan publik.
Mulailah dari hal yang dekat dengannya, misalnya saja dana bantuan pendidikan. Tanyakan apakah teman-temannya ada yang menerima. Ajak anak menganalisis juga apakah teman-temannya yang menerima sudah tepat dan apakah bantuan tersebut memang punya manfaat yang baik. Perbincangan seperti ini akan memperluas perspektifnya, sehingga tidak mudah termakan informasi negatif.
 
Selalu Jawab Pertanyaan
Bila ia bertanya informasi apa pun tentang pemilu, sebaiknya Anda menjawabnya sesuai kemampuan Anda. Upayakan untuk selalu objektif dalam memberi penilaian. Sampaikan kelebihan dan kekurangan masing-masing calon menurut Anda. Ini akan membantunya memahami bahwa untuk menilai dan memutuskan pilihan harus melihat dari dua sisi.
 
Ajak Nonton Debat
Sangat mudah memercayai informasi yang tidak tepat bila tidak melihat atau mengalami langsung. Dengan mengajaknya nonton debat para calon pemimpin, Anda akan memberinya pengalaman untuk mendengar dan menyaksikan langsung adu gagasan antarcalon. Hal ini pun juga akan membantunya memberi penilaian dan memiliki nilai-nilai objektivitas yang lebih kuat, sehingga tidak mudah terpengaruh informasi yang tidak tepat. “Ini mengajak anak untuk kritis,” ujar Najeela.
 
Perkuat Nilai-nilai Keluarga dan Tujuan Pengasuhan
Perkuat nilai-nilai yang ingin ditumbuhkan dalam keluarga, misalnya hak untuk berpendapat, multikultur, dan toleran terhadap perbedaan. Selalu beri contoh yang tepat mengenai nilai-nilai tersebut. Ini akan membantu mereka untuk tidak tergerus dalam arus pertikaian dua kelompok pendukung yang sering mengatasnamakan agama atau budaya.
 
Berlanjut ke Melindungi Anak dari Informasi Negatif Menjelang Pemilu (Bagian 2)
 
 
Baca juga:
Politik Pilkada Mengancam Rasa Toleransi Anak
Ajari Anak Pendidikan Politik
6 Kesalahan Orang Tua Membicarakan Politik dengan Anak (Bagian 1)
6 Kesalahan Orang Tua Membicarakan Politik dengan Anak (Bagian 2)
 


(LELA LATIFA)
FOTO: PIXABAY

 
 
 
 
 

 

Follow Us

Most Popular

Instagram Newsfeed

@parentingindonesia