Sampah Makanan Selama Ramadan Meningkat, Harus Diapakan?




Bulan Ramadan adalah bulan yang baik dimanfaatkan untuk mengatur pola makan agar lebih sehat. Tetapi, yang terjadi adalah justru jumlah sampah makanan meningkat di bulan suci ini.
 
Berdasarkan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta, jumlah sampah warga DKI Jakarta yang masuk ke TPS Bantargebang bertambah tujuh ratus kuintal dari produksi harian yang rata-rata mencapai enam ribu ton. Data TPS Bantargebang tahu 2019 menyebut bahwa 39% sampah makanan mendominasi lokasi tersebut dari total sampah yang masuk per hari pertama Ramadan.
 
Sebenarnya, sampah makanan ini memang merupakan masalah yang sudah dihadapi oleh negara kita di luar bulan Ramadan. Pusat Makanan dan Nutrisi Barilla pada 2016 mencatat Indonesia membuang sampah makanan terbesar kedua dengan jumlah mencapai 300 kilogram per orang per tahun.
 
Berdasarkan The Economist Intelligence Unit, Indonesia adalah negara penghasil sampah makanan terbanyak kedua di dunia setelah Arab Saudi yang menghasilkan 427 kg per orang per tahun sampah makanan. Amerika Serikat berada di posisi ketiga dengan jumlah 277 kg per orang per tahun.
 
Selain mubazir dan menguras keuangan Anda, sampah makanan ini juga berpengaruh terhadap kondisi bumi.  Menurut laporan dari World Resources Institute (WRI), limbah makanan menyumbang 8% dari emisi gas rumah kaca tahunan. Hal ini tentunya berkontribusi terhadap perubahan iklim.
 
Untuk itu, apa yang harus kita lakukan?
 

  • Tidak Lapar Mata
Hal yang sering terjadi di Bulan Ramadan adalah lapar mata menjelang berbuka puasa. Segala macam menu takjil dibeli. Akhirnya, karena perut sudah terlalu kenyang, makanan pun jadi sisa dan terbuang.
 
  • Buat Food Journal selama Ramadan
Membuat food journal yang berisi menu berbuka, camilan di malam hari, serta sahur akan membuat Anda fokus hanya menyiapkan makanan yang sudah ada di dalam daftar tersebut saja.
  • Olah Lagi
Jika ada makanan berbuka yang tersisa, olah lagi menjadi menu yang berbeda untuk makan sahur.
 
  • Mulai Mengompos
Mulailah mengompos sampah makanan agar tidak berakhir di TPA saja.Mengompos adalah kegiatan mengolah sampah organik untuk dijadikan kompos yang dapat menyuburkan tanaman.
 
Ada banyak jenis komposter, antara lain takakura yang memanfaatkan keranjang cucian bekas berlubang yang dilapisi dengan kardus bekas untuk sampah hijau dan coklat, komposter drum atau container yang cocok untuk digunakan di lahan sempit, gerabah atau komposter pot, worm bin yang menggunakan cacing tanah sebagai media pengurai, atau biopori.
 
Bila Anda kesulitan untuk mulai membuat, saat ini sudah ada yang menjual komposter kit lengkap. Jadi, Anda tinggal memulai saja. Salah satu yang menyediakan adalah @sustaination .
 
  • Membuat Eco Enzyme
Eco enzyme adalah hasil dari fermentasi limbah dapur yang dapat digunakan sebagai pembersih organik, serta sebagai pengganti pembersih kimia. Eco enzyme bekerja dengan cara mempercepat reaksi bio-kimia alami untuk menghasilkan enzim yang berguna dengan menggunakan sampah sayur atau buah. Cairan ini juga bisa dijadikan pupuk alami dan pestisidia yang efektif.


Saat ini juga sudah ada, kok, yang menyediakan eco enzyme kit dengan inovasi sederhana berupa ember yang dilengkapi dengan pentil dan pipa kecil untuk menangkap gas yang dihasilkan dan mencegah masuknya udara luar ke dalam ember. @akademikompos adalah salah satu yang menyediakannya.
 
  • Dijual
Sampah dapur yang sering kali harus terbuang adalah minyak jelantah. Hasil penelitian Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta menunjukkan 97,6 persen masyarakat di DKI Jakarta membuang minyak jelantah ke saluran air dan ke tanah.
 
Padahal, minyak jelantah ternyata dapat diolah menjadi  hal-hal bermanfaat seperti sabun cuci baju, pembersih lantai, aromaterapi, pupuk tambahan, juga bahan bakar untuk lampu minyak. Nah, jika Mama punya lampu jelantah, Mama bisa menjual ke @belijelantah (area operasional Jakarta, Depok, Tangerang Kota, Tangerang Selatan, Bekasi Barat), @jelantahbank (Bekasi), @kangasoi (Bandung) dan @minyakjelantahjogja (Yogyakarta) untuk diolah menjadi bahan bakar biodiesel. Ada juga aplikasi Rapel yang tersedia di google play dan app store yang juga menerima minyak jelantah di beberapa kota di DI Yogyakarta dan Jawa Tengah. Minyak jelantah kita akan dibeli dengan harga mulai dari dua ribu rupiah per liternya.
 
Baca juga:
13 Langkah Mudah Menghindari Buang-buang Makanan (Bagian 1)
13 Langkah Mudah Menghindari Buang-buang Makanan (Bagian 2)
Bank Sampah untuk Indonesia Lebih Baik
Buat Produk Ramah Lingkungan, Yuk!
Perilaku Ramah Lingkungan Berawal dari Keluarga
5 Cara Menumbuhkan Kepedulian Anak Pada Lingkungan
 
 
LTF
FOTO: SHUTTERSTOCK
 
 

 

 





Video

Lindungi Anak dari Kejahatan Pedofilia


Polling

Sampah Makanan Selama Ramadan Meningkat, Harus Diapakan?